LAMBORGINI (LAnsia Menuju BuGaR dengan deteksi pIkun sejak diNI)
19 Foto
Klik gambar untuk tampilan penuh
Rancang Bangun & Perubahan
Puskesmas Sekaran adalah Puskesmas Rawat Jalan dengan 5 Kelurahan binaan. Berada di Kelurahab Sekaran Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Puskesmas Sekaran merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan melalui fungsinya sebagai penyelenggara Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM). Kegiatan UKM salah satunya yaitu posyandu lansia. Posyandu lansia memberikan cakupan yang cukup tinggi pada kunjungan pasien di Puskesmas. Kegiatan Posyandu lansia dilaksanakan oleh petugas Puskesmas dibantu kader lansia. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Semarang, lansia di Kota Semarang berjumlah 180.096 orang sedangkan pra lansia berjumlah 275.601 orang pada tahun 2018. Di Puskesmas Sekaran jumlah lansia ada 3081 orang. Posyandu lansia di Puskesmas Sekaran ada 16 Posyandu. Prevalensi lansia yang mendapatkan pelayanan kesehatan di Kota Semarang pada tahun 2017 adalah 102,96% kemudian turun menjadi 99,83 pada tahun 2018. Masalah yang dihadapi layanan adalah jumlah Posyandu lansia menurun menjadi 13 Posyandu lansia. Kunjungan Lansia menurun (10%) namun masih memenuhi target. Kelompok usia lanjut (Poksila) yang dibina dan dikunjungi menurun, dari 16 Poksila menjadi 13 Poksila saja. Penurunan Poksila dikarenakan 3 Poksila membubarkan diri karena kunjungan lansia turun dan kader mejadi tidak aktif. LAMBORGINI merupakan gagasan inovasi untuk meningkatkan angka harapan hidup lansia. Inovasi ini lahir dengan harapan agar lansia menjadi lebih sehat, bugar, produktif, bahagia dan jauh dari kepikunan. Inovasi dilaksanakan dengan berdasarkan pada Permenkes No. 25 Tahun 2016 tentang Rencana Aksi Nasional (RAN) Kesehatan lanjut usia tahun 2016-2019 yang terbagi menjadi 6 strategi diantaranya membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring pelaksanaan pelayanan kesehatan lanjut usia yang organisasi profesi, LSM dan pihak terkait lainnya, meningkatkan peran serta dan pemberdayaan keluarga, masyarakat dan lanjut usia untuk kesehatan lansia dan meningkatkan peran serta lansia dalam upaya peningkatan kesehatan keluarga dan masyarakat. Inovasi LAMBORGINI diimplementasikan pada Juli 2018. Kegiatan LAMBORGINI atau Lansia menuju bugar deteksi pikun sejak dini berupa kegiatan posyandu lansia dengan penambahan skrining deteksi kemandirian lansia, kebugaran lansia, dan kepikunan dengan tindak lanjut berupa kegiatan Senam jasmani, senam otak, terapi kognitif, rekreasi dan berkreasi (kerajinan tangan). Adanya kegiatan kreatifitas menjadikan inovasi LAMBORGINI berhasil menaikkan kunjungan lansia di poksila. Dimana sebelum adanya LAMBORGINI, kunjungan lansia di poksila menurun dan akhirnya 3 poksila membubarkan diri. Kemudian setelah adanya LAMBORGINI, berdiri 6 poksila baru. Terobosan inovasi LAMBORGINI memiliki manfaat bagi lansia, diantaranya: memberikan gambaran kondisi pada lansia secara umum dan faktor-faktor yang mempengaruhi memberikan pendidikan kesehatan kepada lansia agar lansia tetap bugar segera mendeteksi penurunan kondisi pada lansia dan melakukan intervensi tindak lanjutnya segera menindaklanjuti permasalahan pada lansia yang ada di komunitas Selain memberikan manfaat bagi lansia sendiri, Inovasi LAMBORGINI juga memberikan manfaat bagi Puskesmas Sekaran dimana cakupan kunjungan lansia di posyandu lansia naik menjadi 80%, dan cakupan Poksila yang dibina dan dikunjungi ada 18 Poksila (100%). Terobosan LAMBORGINI sangat tepat membantu meningkatkan jumlah kunjungan lansia karena tertarik dengan kegiatan-kegiatan di posyandu lansia. Inovasi ini dikembangkan oleh Puskesmas Sekaran Kota Semarang Provinsi Jawa Tengah dan memberikan dampak positif terhadap kesehatan lansia di wilayah Puskesmas Sekaran. Cara kerja inovasi susai SOP yakni dengan : Melakukan test kemandirian dilakukan dengan meggunakan form ADL/IADL. Hasil skoring akan menunjukkan lansia masuk kategori mandiri atau ketergantungan. Melakukan test kebugaran dilakukan dengan test jalan 6 menit. Hasil skoring menunjukkan tingkat kebugaran lansia, kurang, cukup atau baik. Melakukan test kepikunan lansia menggunakan form skrining Kognitif Clock Drawing Test dan AD8 kemudian dari hasil deteksi dapat ditindak lanjut melalui kegiatan-kegiatan seperti edukasi, rekreasi dan kreativitas lansia (kerajinan tangan). Dari hasil inovasi LAMBORGINI ini terbukti dapat meningkatkan jumlah lansia yang mendapatkan layanan pengkajian paripurna geriatric (P3G) (93%) setelah beberapa tahapan inovasi yaitu penyelenggaraan FGD untuk merumusan inovasi, pembentukan tim efektif, koordinasi stakeholders internal eksternal, penyiapan sarana prasarana, sosialisasi internal eksternal, bimbingan teknis, implementasi dan monitoring dan evaluasi.
Tujuan Inovasi
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan menetapkan bahwa upaya pemeliharaan kesehatan bagi lanjut usia ditujukan untuk menjaga agar para lanjut usia tetap sehat dan produktif secara sosial dan ekonomis. Upaya yang telah dilaksanakan untuk memelihara kesehatan lansia terdapat pada strategi ke 5 dalam Permenkes No.25 tahun 2016 tentang Rencana Aksi Nasional (RAN) Kesehatan Lanjut Usia yaitu meningkatkan peran serta dan pemberdayaan keluarga, masyarakat, dan lanjut usia. Prevalensi lansia yang mendapatkan pelayanan kesehatan di Kota Semarang pada tahun 2017 adalah 102,96% kemudian turun menjadi 99,83 pada tahun 2018. Inovasi LAMBORGINI lahir dengan maksud menjadikan Lansia menuju bugar dengan deteksi pikun sejak dini. Adapun tujuan jangka pendek dan jangka panjang diantaranya yaitu : Tujuan jangka pendek Meningkatkan kunjungan lansia di poksia Meningkatkan jumlah posyandu lansia di tiap kelurahan Meningkatkan kesadaran dan mendorong kemandirian lansia Mengetahui tingkat kebugaran dan kepikunan lansia Tujuan jangka panjang Menjadikan lansia semakin sehat, bugar dan produktif Meningkatkan angka harapan hidup lansia Meningkatkan kebugaran lansia Mencegah Demensia pada lansia
Manfaat Inovasi
Manfaat inovasi Poksila Lamborgini yaitu: dapat segera mendeteksi penurunan kondisi pada lansia dan melakukan intervensi tindak lanjutnya memberikan gambaran kondisi pada lansia secara umum dan faktor-faktor yang mempengaruhinya segera menindaklanjuti permasalahan pada lansia yang ada di komunitas memberikan pendidikan kesehatan kepada lansia agar lansia tetap bugar dan produktif
Hasil Inovasi
Hasil inovasi Lamborgini NO INDIKATOR SEBELUM SESUDAH TINDAK LANJUT 1 Jumlah kelompok lansia 13 18 Optimalisasi Inovasi 2 Kunjungan Peserta Poksila 60% 80% Peningkatan kunjungan lansian di Poksila 3 Jumlah Poksila yang terbina 72% 100% Peningkatan kegiatan pembinaan 5 Kerja sama dengan TP PKK Kec. Gunungpati 0% 50% Peningkatan peran aktif lintas sektoral Dari hasil inovasi LAMBORGINI ini terbukti dapat meningkatkan jumlah lansia yang mendapatkan layanan pengkajian paripurna geriatric (P3G) (93%) setelah beberapa tahapan inovasi yaitu penyelenggaraan FGD untuk merumusan inovasi, pembentukan tim efektif, koordinasi stakeholders internal eksternal, penyiapan sarana prasarana, sosialisasi internal eksternal, bimbingan teknis, implementasi dan monitoring dan evaluasi. Inovasi LAMBORGINI telah dilakukan evaluasi secara internal (lingkup dalam Puskesmas) dan eksternal (lingkup luar Puskesmas) sebagai berikut: Internal, dilakukan oleh pihak Puskesmas (baik oleh level manajemen, maupun oleh tim kendali mutu), meliputi: evaluasi SPM pelayanan, monev inovasi dan evaluasi mutu dan keselamatan pasien, kepuasan layanan dan keberlanjutan pengembangan layanan. Eksternal, dilakukan oleh pihak independen untuk memantau kepuasan masyarakat (lansia) atas pelayanan inovasi ini dilakukan melalui Survei Kepuasan Masyarakat (SKM). Metode evaluasi LAMBORGINI melalui: Laporan bulanan Rapat rutin bulanan (mini lokakarya) Obervasi Layanan (perbulan) Monev layanan dan audit (triwulan) Masukan pasien Puskesmas No. Indikator-Evaluasi Diukur-Dengan 1 Jumlah Kunjungan lansia di posyandu lansia Data kunjungan di buku daftar hadir poksila 2 Pemahaman pentingnya pemeriksaan di posyandu lansia Kuesioner 3 Deteksi Dini Masalah /Kelainan pada lansia Formulir ADL/IADL Form indikator kepikunan Tes jalan 6 menit untuk lansia 4 Kepuasan Layanan Data SKM 5 Implementasi kegiatan pendukung Peran aktif lintas sektoral dan pihak ketiga sesuai peran masing-masing dalam bentuk kegiatan Hasil Evaluasi: NO INDIKATOR SEBELUM SESUDAH TINDAK LANJUT 1 Jumlah Kunjungan lansia di posyandu lansia 60% (339 lansia) 80% (452 lansia) Optimalisasi Inovasi 2 Pemahaman pentingnya pemeriksaan di posyandu lansia Belum optimal (40%) 80% Optimalisasi KIE Penyebaran Leaflet 3 Deteksi Dini Masalah /Kelainan lansia Belum optimal Jumlah lansia dengan kemandirian mandiri/ ketergantungan ringan (90%) Jumlah lansia dengan ketergantungan sedang (4%) Jumlah lansia dengan ketergantungan berat/total (6%) Jumlah lansia tidak pikun (94%) Jumlah lansia pra pikun(5%) Jumlah lansia pikun (1%) Jumlah lansia bugar (88%) Jumlah lansia cukup bugar (10%) Jumlah lansia kurang bugar (2%) Peningkatan Deteksi 4 Kepuasan layanan SKM 73% SKM 89% Peningkatan kegiatan 5 Implementasi kegiatan pendukung Peran aktif 80% 92% Peningkatan peran aktif lintas sektoral dan pihak ketiga