RANCANG BANGUN
INOVASI MASPUR HEPI
Pemerintah Indonesia telah mempunyai komitmen menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin sejak 2 dekade yang lalu. Komitmen tersebut tidak hanya bertujuan untuk mencapai target nasional sebagaimana tercantum dalam GBHN, UUD, Propenas, dan RPJM tetapi juga berbagai komitmen global yang menuntut perbaikan kondisi kesehatan masyarakat. Model pelayanan kesehatan untuk penduduk miskin yang dilaksanakan pemerintah telah ditempuh dengan berbagai cara antara lain supply side approach dan demand side approach. Berdasarkan tinjauan literatur, terdapat beberapa alasan kenapa pemerintah harus berperan penting dalam pelayanan kesehatan penduduk miskin, yaitu: (1) Kesehatan merupakan suatu hak dasar rakyat; (2) Kesehatan mempunyai peranan yang besar dalam pembangunan ekonomi, yaitu pada tingkat mikro kesehatan merupakan dasar bagi peningkatan produktivitas kerja dan pada tingkat makro kesehatan merupakan input untuk nienurunkan kemiskinan. Di Indonesia, peran penting pemerintah tersebut ditambah dengan beberapa alasan, yaitu: (1) Pelayanan dasar bagi penduduk miskin adalah perintah konstitusi; (2) Terjadi disparitas status kesehatan; dan (3) Rendahnya kualitas kesehatan penduduk miskin.
Dalam pelaksanaan program pelayanan kesehatan untuk penduduk miskin pada waktu yang lalu muncul beberapa permasalahan, antara lain: ketidaktepatan sasaran, jenis pelayanan tidak sesuai dengan yang dibutuhkan, jumlah dana tidak memadai, waktu pemberian tidak tepat, tidak berkesinambungan, dan rendahnya mutu pelayanan yang diberikan. Permasalahan tersebut pada akhirnya berdampak pada rendahnya cakupan program dan pemanfaatan program bantuan pelayanan kesehatan oleh penduduk miskin itu sendiri. Data yang digunakan berupa data kuantitatif dan kualitatif yang berasal dari data primer dan sekunder. Untuk mengetahui efektifitas program bantuan pelayanan kesehatan untuk penduduk miskin digunakan data Susenas tahun 2002 dengan teknik analisis crosstabulasi. Sedangkan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penduduk miskin dalam memanfaatkan program tersebut digunakan teknik analisis Logit Model.
Inovasi MASPUR HEPI atau kepanjangan dari Puskesmas Purwoyoso atasi Hipertensi dengan Taman Hepi adalah salah satu inovasi Puskesmas Purwoyoso untuk menurunkan angka hipertensi dengan berbasis pemberdayaan masyarakat. Kegiatan MASPUR HEPI mempunyai tujuan utama agar masyarakat tidak selalu bergantung dengan obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah, tetapi juga bisa diimbangi dengan mengonsumsi tanaman herbal, selain itu disisi ekonomi juga diharapkan bisa meningkatkan pendapatan masyarakat dengan mengolah tanaman tersebut menjadi berbagai kudapan atau minuman.
Program ini merupakan salah satu intervensi PIS-PK berintegrasi dengan program Cetar atau Cek Tensi Saat Arisan yang merupakan program preventif pencegahan hipertensi khususnya pada warga usia produktif baik bapak maupun ibu yang mengikuti kegiatan arisan. Program ini akan dikolaborasi, kerja sama antara puskesmas, serta perangkat kelurahan, RW, RT hingga dawis yang diharapkan bisa menjadi suatu pola sehat dan terukur.
Riskesdas 2018 menyatakan estimasi jumlah kasus hipertensi di Indonesia sebesar 63.309.620 orang, sedangkan angka kematian di Indonesia akibat hipertensi sebesar 427.218 kematian.
Berdasarkan hasil survey kesehatan, 30% penduduk Indonesia mengalami hipertensi. Hipertensi merupakan faktor resiko ketiga penyebab kematian setelah penyakit stroke dan tuberkulosis, yakni 67?ri populasi kematian pada semua umur. Riskesdas 2018 menyatakan estimasi jumlah kasus hipertensi di Indonesia sebesar 63.309.620 orang, sedangkan angka kematian di Indonesia akibat hipertensi sebesar 427.218 kematian. Prevalensi hipertensi tertinggi di Indonesia berada di Provinsi Bangka Belitung yaitu mencakup 30,9 %, sedangkan Provinsi Jawa Tengah berada pada urutan ke 11 dengan jumlah kasus 26,4% jiwa, dihitung melalui pengukuran pada umur 18 tahun (Depkes RI, 2013). Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, kasus tertinggi hipertensi berada di Kota Semarang yaitu sebesar 67.101 kasus (19,56%). Berdasarkan jumlah kasus keseluruhan di Kota Semarang terdapat proporsi 2 yang lebih besar yaitu 53, 69%. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Semarang penyakit hipertensi juga merupakan urutan pertama dari seluruh penyakit yang ada di Kota Semarang dengan jumlah penderita 34.202 jiwa. Berdasarkan usia 15 – 44 tahun kasus hipertensi sebanyak 5.059 jiwa. Berdasarkan data kunjungan PIS-PK Puskesmas Purwoyoso jumlah pasien hipertensi yang minum obat teratur hanya 28.13% sebelum dilaksanakan intervensi
MASPUR HEPI atau kepanjangan dari Puskesmas Purwoyoso atasi Hipertensi dengan Taman Hepi adalah salah satu inovasi Puskesmas Purwoyoso untuk menurunkan angka hipertensi dengan berbasis pemberdayaan masyarakat. Kegiatan MASPUR HEPI mempunyai tujuan utama agar masyarakat tidak selalu bergantung dengan obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah, tetapi juga bisa diimbangi dengan mengonsumsi tanaman herbal, selain itu disisi ekonomi juga diharapkan bisa meningkatkan pendapatan masyarakat dengan mengolah tanaman tersebut menjadi berbagai kudapan atau minuman.
Program ini merupakan salah satu intervensi PIS-PK berintegrasi dengan program Cetar atau Cek Tensi Saat Arisan yang merupakan program preventif pencegahan hipertensi khususnya pada warga usia produktif baik bapak maupun ibu yang mengikuti kegiatan arisan. Program ini akan dikolaborasi, kerja sama antara puskesmas, serta perangkat kelurahan, RW, RT hingga dawis yang diharapkan bisa menjadi suatu pola sehat dan terukur.
Inovasi MASPUR HEPI mampu memberikan kontribusi SDG’s pada Tujuan SDG’s ketiga yaitu menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia. Inovasi MASPUR HEPI terdiri dari upaya pencegahan dan pemanfaatan toga yang yang bertujuan untuk menurunkan angka hipertensi dan bisa mempercepat penurunan kasus hipertensi sesuai dengan target 3.4 dalam tujuan SDG’s ketiga yaitu : Pada tahun 2030, mengurangi sepertiga kematian premature akibat penyakit tidak menular melalui pencegahan dan perawatan, serta mendorong kesehatan dan kesejahteraan mental. Inovasi MASPUR HEPI (Puskesmas Purwoyoso Atasi Hipertensi dengan Taman Hepi) berhasil membantu (1) mengedukasi masyarakat mengenai bahaya hipertensi dengan peningkatan penyuluhan kepada kelompok masyarakat 56 menjadi 540; (2) meningkatkan angka kapatuhan berobat penderita hipertensi (dari 28,13% orang naik menjadi 53,7%); (3) meningkatkan kesadaran warga waspada hipertensi dari angka kunjungan pasien datang posyandu lansia dan posbindu (peningkatan sebesar 20% dibandingkan tahun sebelumnya); (4) Meningkatkan angka cakupan pemanfaatan toga khususnya hipertensi oleh masyarakat (didukung program PKK yaitu penanaman 5 toga per rumah). Kegiatan yang dilaksanakan dalam Inovasi ini yaitu (1) Pemanfaatan lahan masyarakat menjadi Taman Hepi (Taman Anti Hipertensi) (2) Pengolahan hasil panen Taman Hepi yang bisa bernilai ekonomi (3) Koordinasi lintas sektor dan pihak swasta, (4) Pembentukan Asuhan Mandiri Toga dan Akupresure dengan pendampingan Puskesmas.
Inovasi MASPUR HEPI muncul dari masalah hipertensi di Indonesia yang menjadi penyebab tingginya kasus penyakit degenerative. Dari data simpus diketahui bahwa saat ini hipertensi tidak hanya menyerang usia lanjut tetapi juga masyarakat usia muda beberapa upaya yang berhasil dilakukan antara lain (1) mengedukasi masyarakat mengenai bahaya hipertensi dengan peningkatan penyuluhan kepada kelompok masyarakat 26 menjadi 173; (2) meningkatkan angka kepatuhan berobat penderita hipertensi (dari 28,13% orang naik menjadi 48,09%); (3) meningkatkan kesadaran warga waspada hipertensi dari angka kunjungan pasien datang posyandu lansia dan posbindu (peningkatan sebesar 20% dibandingkan tahun sebelumnya); (4) Meningkatkan angka cakupan pemanfaatan toga khususnya hipertensi oleh masyarakat (didukung program PKK yaitu penanaman 5 toga per rumah).
Bentuk inovasi yang dilakukan kepada masyarakat
Inovasi MASPUR HEPI (Puskesmas Purwoyoso Atasi Hipertensi) mempunyai beberapa kegiatan pokok antara lain:
Pemerintah Indonesia telah mempunyai komitmen menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin sejak 2 dekade yang lalu. Komitmen tersebut tidak hanya bertujuan untuk mencapai target nasional sebagaimana tercantum dalam GBHN, UUD, Propenas, dan RPJM tetapi juga berbagai komitmen global yang menuntut perbaikan kondisi kesehatan masyarakat. Model pelayanan kesehatan untuk penduduk miskin yang dilaksanakan pemerintah telah ditempuh dengan berbagai cara antara lain supply side approach dan demand side approach. Berdasarkan tinjauan literatur, terdapat beberapa alasan kenapa pemerintah harus berperan penting dalam pelayanan kesehatan penduduk miskin, yaitu: (1) Kesehatan merupakan suatu hak dasar rakyat; (2) Kesehatan mempunyai peranan yang besar dalam pembangunan ekonomi, yaitu pada tingkat mikro kesehatan merupakan dasar bagi peningkatan produktivitas kerja dan pada tingkat makro kesehatan merupakan input untuk nienurunkan kemiskinan. Di Indonesia, peran penting pemerintah tersebut ditambah dengan beberapa alasan, yaitu: (1) Pelayanan dasar bagi penduduk miskin adalah perintah konstitusi; (2) Terjadi disparitas status kesehatan; dan (3) Rendahnya kualitas kesehatan penduduk miskin.
Dalam pelaksanaan program pelayanan kesehatan untuk penduduk miskin pada waktu yang lalu muncul beberapa permasalahan, antara lain: ketidaktepatan sasaran, jenis pelayanan tidak sesuai dengan yang dibutuhkan, jumlah dana tidak memadai, waktu pemberian tidak tepat, tidak berkesinambungan, dan rendahnya mutu pelayanan yang diberikan. Permasalahan tersebut pada akhirnya berdampak pada rendahnya cakupan program dan pemanfaatan program bantuan pelayanan kesehatan oleh penduduk miskin itu sendiri. Data yang digunakan berupa data kuantitatif dan kualitatif yang berasal dari data primer dan sekunder. Untuk mengetahui efektifitas program bantuan pelayanan kesehatan untuk penduduk miskin digunakan data Susenas tahun 2002 dengan teknik analisis crosstabulasi. Sedangkan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penduduk miskin dalam memanfaatkan program tersebut digunakan teknik analisis Logit Model.
Inovasi MASPUR HEPI atau kepanjangan dari Puskesmas Purwoyoso atasi Hipertensi dengan Taman Hepi adalah salah satu inovasi Puskesmas Purwoyoso untuk menurunkan angka hipertensi dengan berbasis pemberdayaan masyarakat. Kegiatan MASPUR HEPI mempunyai tujuan utama agar masyarakat tidak selalu bergantung dengan obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah, tetapi juga bisa diimbangi dengan mengonsumsi tanaman herbal, selain itu disisi ekonomi juga diharapkan bisa meningkatkan pendapatan masyarakat dengan mengolah tanaman tersebut menjadi berbagai kudapan atau minuman.
Program ini merupakan salah satu intervensi PIS-PK berintegrasi dengan program Cetar atau Cek Tensi Saat Arisan yang merupakan program preventif pencegahan hipertensi khususnya pada warga usia produktif baik bapak maupun ibu yang mengikuti kegiatan arisan. Program ini akan dikolaborasi, kerja sama antara puskesmas, serta perangkat kelurahan, RW, RT hingga dawis yang diharapkan bisa menjadi suatu pola sehat dan terukur.
Riskesdas 2018 menyatakan estimasi jumlah kasus hipertensi di Indonesia sebesar 63.309.620 orang, sedangkan angka kematian di Indonesia akibat hipertensi sebesar 427.218 kematian.
Berdasarkan hasil survey kesehatan, 30% penduduk Indonesia mengalami hipertensi. Hipertensi merupakan faktor resiko ketiga penyebab kematian setelah penyakit stroke dan tuberkulosis, yakni 67?ri populasi kematian pada semua umur. Riskesdas 2018 menyatakan estimasi jumlah kasus hipertensi di Indonesia sebesar 63.309.620 orang, sedangkan angka kematian di Indonesia akibat hipertensi sebesar 427.218 kematian. Prevalensi hipertensi tertinggi di Indonesia berada di Provinsi Bangka Belitung yaitu mencakup 30,9 %, sedangkan Provinsi Jawa Tengah berada pada urutan ke 11 dengan jumlah kasus 26,4% jiwa, dihitung melalui pengukuran pada umur 18 tahun (Depkes RI, 2013). Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, kasus tertinggi hipertensi berada di Kota Semarang yaitu sebesar 67.101 kasus (19,56%). Berdasarkan jumlah kasus keseluruhan di Kota Semarang terdapat proporsi 2 yang lebih besar yaitu 53, 69%. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Semarang penyakit hipertensi juga merupakan urutan pertama dari seluruh penyakit yang ada di Kota Semarang dengan jumlah penderita 34.202 jiwa. Berdasarkan usia 15 – 44 tahun kasus hipertensi sebanyak 5.059 jiwa. Berdasarkan data kunjungan PIS-PK Puskesmas Purwoyoso jumlah pasien hipertensi yang minum obat teratur hanya 28.13% sebelum dilaksanakan intervensi
MASPUR HEPI atau kepanjangan dari Puskesmas Purwoyoso atasi Hipertensi dengan Taman Hepi adalah salah satu inovasi Puskesmas Purwoyoso untuk menurunkan angka hipertensi dengan berbasis pemberdayaan masyarakat. Kegiatan MASPUR HEPI mempunyai tujuan utama agar masyarakat tidak selalu bergantung dengan obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah, tetapi juga bisa diimbangi dengan mengonsumsi tanaman herbal, selain itu disisi ekonomi juga diharapkan bisa meningkatkan pendapatan masyarakat dengan mengolah tanaman tersebut menjadi berbagai kudapan atau minuman.
Program ini merupakan salah satu intervensi PIS-PK berintegrasi dengan program Cetar atau Cek Tensi Saat Arisan yang merupakan program preventif pencegahan hipertensi khususnya pada warga usia produktif baik bapak maupun ibu yang mengikuti kegiatan arisan. Program ini akan dikolaborasi, kerja sama antara puskesmas, serta perangkat kelurahan, RW, RT hingga dawis yang diharapkan bisa menjadi suatu pola sehat dan terukur.
Inovasi MASPUR HEPI mampu memberikan kontribusi SDG’s pada Tujuan SDG’s ketiga yaitu menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia. Inovasi MASPUR HEPI terdiri dari upaya pencegahan dan pemanfaatan toga yang yang bertujuan untuk menurunkan angka hipertensi dan bisa mempercepat penurunan kasus hipertensi sesuai dengan target 3.4 dalam tujuan SDG’s ketiga yaitu : Pada tahun 2030, mengurangi sepertiga kematian premature akibat penyakit tidak menular melalui pencegahan dan perawatan, serta mendorong kesehatan dan kesejahteraan mental. Inovasi MASPUR HEPI (Puskesmas Purwoyoso Atasi Hipertensi dengan Taman Hepi) berhasil membantu (1) mengedukasi masyarakat mengenai bahaya hipertensi dengan peningkatan penyuluhan kepada kelompok masyarakat 56 menjadi 540; (2) meningkatkan angka kapatuhan berobat penderita hipertensi (dari 28,13% orang naik menjadi 53,7%); (3) meningkatkan kesadaran warga waspada hipertensi dari angka kunjungan pasien datang posyandu lansia dan posbindu (peningkatan sebesar 20% dibandingkan tahun sebelumnya); (4) Meningkatkan angka cakupan pemanfaatan toga khususnya hipertensi oleh masyarakat (didukung program PKK yaitu penanaman 5 toga per rumah). Kegiatan yang dilaksanakan dalam Inovasi ini yaitu (1) Pemanfaatan lahan masyarakat menjadi Taman Hepi (Taman Anti Hipertensi) (2) Pengolahan hasil panen Taman Hepi yang bisa bernilai ekonomi (3) Koordinasi lintas sektor dan pihak swasta, (4) Pembentukan Asuhan Mandiri Toga dan Akupresure dengan pendampingan Puskesmas.
Inovasi MASPUR HEPI muncul dari masalah hipertensi di Indonesia yang menjadi penyebab tingginya kasus penyakit degenerative. Dari data simpus diketahui bahwa saat ini hipertensi tidak hanya menyerang usia lanjut tetapi juga masyarakat usia muda beberapa upaya yang berhasil dilakukan antara lain (1) mengedukasi masyarakat mengenai bahaya hipertensi dengan peningkatan penyuluhan kepada kelompok masyarakat 26 menjadi 173; (2) meningkatkan angka kepatuhan berobat penderita hipertensi (dari 28,13% orang naik menjadi 48,09%); (3) meningkatkan kesadaran warga waspada hipertensi dari angka kunjungan pasien datang posyandu lansia dan posbindu (peningkatan sebesar 20% dibandingkan tahun sebelumnya); (4) Meningkatkan angka cakupan pemanfaatan toga khususnya hipertensi oleh masyarakat (didukung program PKK yaitu penanaman 5 toga per rumah).
Bentuk inovasi yang dilakukan kepada masyarakat
Inovasi MASPUR HEPI (Puskesmas Purwoyoso Atasi Hipertensi) mempunyai beberapa kegiatan pokok antara lain:
In
MASPUR HEPI atau Puskesmas Purwoyoso Atasi Hipertensi dengan Taman Hepi adalah inovasi intervensi program penanggulangan dan pencegahan hipertensi yang bertujuan untuk menurunkan angka hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Purwoyoso dengan jumlah penduduk 38.216 jiwa dengan berbasis pemberdayaan masyarakat. Sasaran utama dari kegiatan ini adalah masyarakat dengan diagnosa hipertensi dan masyarakat yang berisiko hipertensi khususnya di wilayah kerja UPTD Puskesmas Purwoyoso. Pada tahun ini inovasi kembali lagi dikembangkan di RW 3 Kalipancur sesuai dengan kasus dan gambaran potensial dampak.
Inovasi MASPUR HEPI memberikan kontribusi yang sangat signifikan pada penurunan angka hipertensi dengan berbasis pemberdayaan masyarakat. Kegiatan MASPUR HEPI yang terdiri dari penyuluhan, pembuatan Taman Hepi yaitu tanaman obat keluarga yang berisi tanaman anti-hipertensi, praktik pembuatan Jamu Anti Hipertensi, Sosialisasi Pijat Akupresur untuk gejala pusing dan mual yang bisa dilakukan secara mandiri oleh masyarakat. Inovasi MASPUR HEPI telah dilaksanakan sejak tahun 2022. Data Simpus (Sistem Informasi dan Manajemen Puskesmas) Puskesmas Purwoyoso menunjukkan kasus hipertensi telah mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Terdapat 2.284 kasus pada tahun 2022 kemudian menjadi 782 kasus di tahun 2023 dan kembali turun 17,4% menjadi 213 kasus tahun 2024. Kemudian dari data PKP (Penilaian Kinerja Puskesmas) Hipertensi diketahui terdapat penurunan dari 7.345 kasus pada 2023 menjadi 6,244 kasus pada 2024 dengan penurunan prevalensi hipertensi sebesar 5,5%. Upaya penanganan kasus hipertensi sejalan dengan salah satu tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) Sustainable yaitu pengendalian hipertensi di dunia dan sejalan dengan Visi Kota Semarang yaitu Terwujudnya Kota Semarang yang Semakin Hebat berlandaskan Pancasila dalam Bingkai NKRI yang Ber-Bhinneka Tunggal Ika dan Misi Meningkatkan kualitas dan kapasitas Sumber Daya Manusia yang unggul dan produktif untuk mencapai kesejahteraan dan keadilan sosial.
Kondisi ini membawa manfaat yang sangat luas di bidang Kesehatan yang khususnya bagi masyarakat dengan diagnose hipertensi yang tidak berobat secara teratur untuk memulai sebuah acara baru dalam mengontrol tekanan darahnya. Dengan kondisi yang semakin terkontrol akan megurangi jumlah masyarakat sakit sehingga bias mengurangi beban pembiayaan kesehatan. Dengan demikian angka harapan hidup di kota semarang menjadi meningkat dari 77,69% tahun 2022 menjadi 78,24% tahun 2024.
Inovasi MASPUR HEPI telah dievaluasi atau dinilai oleh berbagai pihak, baik secara internal maupun secara eksternal. Evaluasi Internal dilakukan oleh Tim Mutu UPTD Puskesmas Purwoyoso. Evaluasi ditekankan pada sejauh mana kemampuan inovasi MASPUR HEPI dalam menurunkan angka hipertensi dengan berbasis pemberdayaan masyarakat sehingga memberikan tingkat kepuasan masksimal kepada masyarakat. Evaluasi juga dilakukan melalui tinjauan eksternal oleh lintas sektor untuk melihat progres pencapaian dampak program pada masyarakat terkait. Inovasi MASPUR HEPI sebagai salah satu dukungan Sustainable Development Goals (SDGs) pengendalian hipertensi. Hasil evaluasi memberikan rekomendasi perbaikan dan penyempurnaan inovasi secara berkelanjutan, yang telah disikapi langsung oleh Puskesmas Purwoyoso dan Lintas Sektor terkait dalam rangka penyempurnaan kerja Standar Pelayanan Minimal (SPM). SPM hipertensi adalah Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan penderita hipertensi dan dapat digunakan untuk memantau pelayanan kesehatan penderita hipertensi. Standar Pelayanan Minimal (SPM) Kesehatan Kota Semarang adalah ketentuan yang mengatur jenis dan mutu pelayanan kesehatan dasar yang berhak diperoleh warga negara. Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Walikota (PERWALI) Kota Semarang Nomor 80 Tahun 2019. Dalam pelayanan kesehatan hipertensi sesuai standar, salah satunya yaitu edukasi perubahan gaya hidup dan/atau kepatuhan minum obat. Hal ini berdampak sangat signifikan pada pengentasan kemiskinan (kesehatan) karena beban alokasi pengobatan bisa dialihkan unutuk kegiatan promotive dan preventif.
Setelah dilaksanakan, inovasi MASPUR HEPI merupakan bentuk inovasi berdampak karena membawa dampak signifikan bagi masyarakat dalam upaya penanggulangan masalah hipertensi selain menggunakan obat konvensional, pada akhirnya akan menurunkan kasus hipertensi di wilayah kerja. Dampak ini dapat ditunjukkan melalui sebuah tabel kondisi sebelum (before) and sesudah (after) yang berbasis indikator kinerja pada table berikut:
|
No |
Sumber Data |
Sebelum |
Sesudah |
|
1. |
Simpus |
Tahun 2022 : 2284 kasus |
Tahun 2024 : 213 kasus |
|
2. |
PKP Dinas Kesehatan |
Tahun 2022 : 6872 kasus |
Tahun 2024 : 6244 kasus |
|
3. |
Prevalensi Penurunan Simpus |
Tahun 2022 : 0 |
Tahun 2024 : 17,4% |
|
3. |
Prevalensi Penurunan PKP |
Tahun 2022 : 0
|
Tahun 2024 : 5,5% |
Berdasarkan data di atas diketahui bahwa upaya penurunan angka hipertensi berhasil melalui Inovasi MASPUR HEPI dibuktikan dengan menurunnya kasus hipertensi serta prevalensi selama tiga tahun terakhir di wilayah kerja. Data Simpus (Sistem Informasi dan Manajemen Puskesmas) Puskesmas Purwoyoso menunjukkan kasus hipertensi telah mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Terdapat 2.284 kasus pada tahun 2022 kemudian menjadi 782 kasus di tahun 2023 dan kembali turun 17,4% menjadi 213 kasus tahun 2024. Dari data PKP (Penilaian Kinerja Puskesmas) Hipertensi diketahui terdapat penurunan dari 7.345 kasus pada 2023 menjadi 6,244 kasus pada 2024 dengan penurunan prevalensi hipertensi sebesar 5,5%.