Rancang Bangun Inovasi
Daycare Rumah Pelita (Rumah Penanganan Stunting Lintas Sektor Bagi Baduta dan Balita)
1. Dasar Hukum:
2. Permasalahan
KOTA SEMARANG adalah Ibukota Provinsi Jawa Tengah dengan jumlah penduduk 1.699.585 jiwa, terbagi atas 16 Kecamatan dan 177 Kelurahan. Masalah yang masih menjadi perhatian di Kota Semarang yaitu prevalensi balita stunting sebesar 1,7%, angka kemiskinan sebesar 4,25%, dan indeks pembangunan manusia (IPM) sebesar 84,08% di tahun 2022. Stunting pada anak terjadi akibat faktor yang kompleks terdiri dari aspek sensitif dan spesifik yaitu pemberian makan, penyakit, pola asuh, sanitasi lingkungan, akses ke fasilitas kesehatan, ketahanan pangan, pendidikan, dan ekonomi. Stunting mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan, kerentanan terhadap penyakit, serta terhambatnya perkembangan kognitif sehingga berpengaruh pada tingkat kecerdasan dan produktivitas anak di masa dewasanya. Hasil Diagnostic Reading Dinas Kesehatan Kota Semarang tahun 2022, stunting disebabkan faktor ekonomi (49,8% pendapatan keluarga dibawah UMR), pemberian makan (26,3% MPASI tidak baik), sanitasi lingkungan (43,3% rumah tidak layak), penyakit infeksi (10,4% ISPA, dan 8,3% diare), status perkembangan (12,9% tidak sesuai usia), serta pola asuh (12,0% anak makan tanpa didampingi orang tua).
DAYCARE RUMAH PELITA (Rumah Penanganan Stunting Lintas Sektor pada Balita dan Baduta) dibentuk pada tahun 2023 sebagai inovasi penurunan stunting di Kota Semarang yang berfokus pada perbaikan pola asuh, pemenuhan asupan gizi, serta pendekatan akses pelayanan kesehatan dalam bentuk Daycare yang disediakan secara gratis secara komprehensif dan berkelanjutan
3. Isu Strategis
Kinerja perbaikan gizi masyarakat dan pengentasan stunting menjadi salah satu prioritas nasional pada saat ini. Salah satunya berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainables Development Goals / SDGs). Pengentasan stunting menjadi tujuan global dalam pelaksanaan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan yang dituangkan dalam Tujuan II yaitu : “Menghilangkan kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan gizi yang baik, serta meningkatkan pertanian berkelanjutan". Tercapainya SDGs akan mendorong peningkatan pada indikator-indikator yang menjadi isu strategis nasional yang tertuang dalam RPJMN seperti "Meningkatkan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas dan Berdaya Saing" yang juga menjadi indikator fokus dalam RPJMD Kota Semarang dalam bentuk target Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 84,8 di tahun 2026 serta menurunnya angka kemiskinan menjadi sebesar 14,6% di tahun 2026. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, Pemerintah Kota Semarang berkomitmen dalam melakukan upaya percepatan penurunan stunting salah satunya melalui inovasi Daycare Rumah Pelita. Selain menjamin pemenuhan asupan gizi yang adekuat, Daycare Rumah Pelita juga memfasilitasi perbaikan pengasuhan pada balita stunting serta stimulasi rutin untuk menunjang peningkatan kemampuan kognitif balita stunting.
DAYCARE RUMAH PELITA selaras dengan Misi Asta Cita ke-4: Memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas karena dengan adanya penurunan stunting maka dapat meningkatkan kualitas pembangunan sumber daya manusia untuk mendukung terwujudnya Indonesia Emas pada 2045. Inovasi ini juga sesuai dengan Program Prioritas Presiden yaitu Pemberantasan Kemiskinan karena dapat berkontribusi dalam penurunan angka kemiskinan di Kota Semarang, serta Kesetaraan gender dan perlindungan hak karena melindungi hak anak dalam memperoleh pengasuhan yang optimal untuk menunjang tumbuh kembangnya.
4. Metode Pembaharuan
Kondisi sebelum adanya inovasi ini intervensi penanganan stunting di Kota Semarang masih berfokus pada pemberian makanan tambahan, sedangkan berdasarkan analisis dari diagnostic reading balita stunting, faktor pola asuh keluarga menjadi salah satu penyebab terbesar dari masalah stunting di Kota Semarang. Kondisi setelah adanya inovasi ini Intervensi penanganan stunting di Kota Semarang telah berfokus secara komprehensif, melibatkan semua stakeholder dalam memperbaiki tidak hanya pada aspek pemenuhan asupan gizi namun juga aspek pengasuhan. Inovasi juga telah didukung sistem informasi digital melalui website Sayang-Anak.
5. Keunggulan dan kebaharuan Inovasi
Daycare Rumah Pelita merupakan inovasi penanganan stunting pertama di Indonesia yang berbentuk Daycare dengan tujuan memenuhi kebutuhan gizi dan asupan makan anak, memfasilitasi perbaikan pola asuh, dan mendekatkan akses layanan ke masyarakat. Terdapat system informasi pendukung berupa website Sayang-Anak sebagai penyedia informasi stunting di Kota Semarang dan pemantauan terhadap intervensi yang telah diberikan melalui Daycare Rumah Pelita Adanya kolaborasi dan peran lintas sektor dalam penanganan stunting melalui Daycare Rumah Pelita dan terintegrasi dengan website stunting.semarangkota.go.id milik Pemerintah Kota Semarang
6. Tahapan Inovasi atau Penggunaan Produk
Rapat Koordinasi pembentukan inovasi Daycare Rumah Pelita yang dipimpin langsung oleh ibu Walikota Semarang dihadiri oleh kepala OPD-OPD di Kota Semarang; Penetapan lokasi strategis pembangunan Daycare Rumah Pelita berdasarkan sebaran kasus stunting; Penentuan sasaran dan sosialisasi program Daycare Rumah Pelita kepada masyarakat; Pelaksanaan program Daycare Rumah Pelita yang dibuka setiap hari Senin – Jumat, mulai pukul 08.00 sampai 16.00 dimana balita stunting diberikan makan utama, kudapan, dan susu yang telah memenuhi kebutuhan kalori harian berdasarkan angka kecukupan gizi (AKG) untuk anak usia 1-3 tahun (1400 kkal), pemberian stimulasi dan kegiatan belajar dan bermain oleh pengasuh, pemantauan kesehatan berkala oleh tenaga kesehatan puskesmas, serta parenting class bagi orang tua balita; Dinas Kesehatan melakukan monitoring dan evaluasi setiap minggunya melalui website Sayang-Anak dan pengisian raport manual, dan hasilnya dilaporkan kepada Kepala Dinas; Balita yang telah lulus Daycare Rumah Pelita akan dilakukan pemantauan setiap bulan selama 3 bulan untuk melihat apakah orangtua balita telah menerapkan pola asuh yang diajarkan di Daycare Rumah Pelita.
DAYCARE RUMAH PELITA bertujuan menurunkan stunting melalui intervensi komprehensif aspek spesifik dan sensitif penyebab stunting dengan konsep Daycare sehingga mendukung tercapainya target RPJMD serta TPB yaitu Mengakhiri Kelaparan.
|
Target Output tahun 2024 |
|||
|
No |
Indikator |
Kondisi awal |
Target |
|
1. |
Cakupan balita diintervensi di Daycare Rumah Pelita |
0 |
300 |
|
2. |
Tingkat kelulusan stunting di Daycare Rumah Pelita |
0 |
40% |
|
Target Intermediate Outcome tahun 2024 |
|||
|
No |
Indikator |
Kondisi awal |
Target |
|
1. |
Menurunkan prevalensi stunting (data penimbangan) |
1,7% |
1,0% |
|
2. |
Menurunkan penyebab stunting akibat pemberian makan |
26,3% |
15,0% |
|
3. |
Menurunkan penyebab stunting akibat pola asuh |
12,0% |
8,0% |
|
4. |
Menurunkan penyebab stunting akibat penyakit infeksi |
8,3% |
5,0% |
|
5. |
Menurunkan persentase stunting dengan penyimpangan perkembangan |
12,9% |
10,0% |
|
6. |
Menurunkan penyebab stunting akibat sanitasi lingkungan |
43,3% |
40,0% |
|
7. |
Menurunkan penyebab stunting akibat ekonomi |
49,8% |
45,0% |
|
Target Outcome tahun 2024 |
|||
|
No |
Indikator |
Kondisi awal |
Target |
|
1. |
Menurunkan angka kemiskinan |
4,25% |
4,03% |
|
2. |
Meningkatkan indeks pembangunan manusia |
84,08% |
85,23% |
1. Mengoptimalkan penanganan stunting melalui layanan Daycare dengan kegiatan:
2. Mempermudah akses kesehatan bagi balita stunting karena layanan daycare dibiayai APBD dan disediakan gratis bagi masyarakat sehingga mengurangi beban ekonomi keluarga dan memberi kesempatan orang tua bekerja.
3. Menerapkan Digitalisasi sistem informasi melalui website Sayang Anak untuk mempermudah pelaporan hasil kegiatan dan penyebarluasan informasi DAYCARE RUMAH PELITA.
4. Memperkuat peran lintas sektoral dengan bersama-sama mengentaskan stunting sesuai dengan perannya masing-masing melalui DAYCARE RUMAH PELITA.
Inovasi DAYCARE RUMAH PELITA berdampak pada penurunan stunting yang dibuktikan pada tercapainya indikator RPJMD Kota Semarang tahun 2024 yaitu prevalensi stunting 4?n berkontribusi pada penurunan angka kemiskinan menjadi 4,03% serta peningkatan Indeks Pembangunan Manusia menjadi 85,24% pada 2024, serta mendukung tercapainya TPB Mengakhiri Kelaparan melalui penurunan kasus masalah gizi balita. Dampak inovasi ditunjukkan dengan tercapainya output dan outcome dilihat dari kondisi sebelum (before) dan sesudah (after) sebagai berikut:
|
No |
Indikator |
Sebelum Inovasi (2022) |
Sesudah Inovasi (2024) |
Keterangan |
|
1. |
1,7% |
1,0% |
Mencapai target |
|
|
2 |
4,25% |
4,03% |
Mencapai target |
|
|
|
84,08% |
85,24% |
Mencapai target |
|
|
2. |
Keberhasilan Daycare berdasarkan jumlah balita lulus intervensi |
- |
46% (140 balita lulus dari total 304 peserta) |
Mencapai target |
|
3. |
26,3% |
14,1% |
Mencapai target |
|
|
4 |
Persentase stunting akibat pola asuh berdasarkan Diagnostic Reading |
12,0% |
6,6% |
Mencapai target |
|
5 |
Persentase stunting akibat penyakit infeksi berdasarkan Diagnostic Reading |
10,4% (ISPA) 8,3% (Diare) |
2,6% (ISPA) 3,4% (Diare) |
Mencapai target |
|
6 |
Persentase stunting akibat ekonomi berdasarkan Diagnostic Reading |
49,8% |
45,0% |
Mencapai target |
|
7 |
Persentase stunting akibat sanitasi lingkungan berdasarkan Diagnostic Reading |
43,3% |
39,7% |
Mencapai target |
|
8 |
Persentase stunting disertai penyimpangan perkembangan berdasarkan Diagnostic Reading |
12,9% |
8,2% |
Mencapai target |