Aksi perubahan kinerja DISPERKIM Kota Semarang. Dengan mengangkat isu strategis kawasan permukiman Kota Semarang yang masih terdapat RTLH, kualitas backlog yang kurang sesuai, hingga permukiman kumuh yang masih ada.
Aksi perubahan disusun dengan merumuskan tahapan kegiatan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Pada tahapan jangka pendek selama 2 (dua) bulan, dilaksanakan pembentukan tim efektif, pemetaan jejaring stakeholder, penyusunan strategi komunikasi, koordinasi dengan stakeholder, konsultasi dengan Walikota Semarang, penyusunan perencanaan penanganan kawasan permukiman yang humanis, sosialisasi penanganan kawasan permukiman yang humanis, realisasi hasil inovasi, hingga monitoring evaluasi. Tahap selanjutnya adalah pelaksanaan jangka menengah selama 6 (enam) bulan setelah jangka pendek, yaitu dengan mobilisasi dan koordinasi dengan stakeholder, penanganan kawasan permukiman yang humanis, dan monitoring evaluasi. Pada tahap akhir dengan melanjutkan tahap jangka menengah yaitu dengan mobilisasi dan koordinasi dengan stakeholder, penanganan kawasan permukiman yang humanis secara berkala, dan monitoring evaluasi.
Manfaat dan isu strategi Penanganan Kawasan Permukiman yang Humanis di Kota Semarang :
1. Manfaat Ekologis dan Kesehatan Lingkungan Rusun
Penataan rusunawa dengan pendekatan humanis mengubah stigma rusun yang kumuh dan padat menjadi kawasan yang asri dan sehat.
Optimalisasi Ruang Terbuka Hijau (RTH): Pendekatan humanis memastikan adanya vegetasi dan taman di sekitar blok rusun. RTH ini berfungsi sebagai paru-paru mikro, menurunkan efek urban heat island (suhu panas kota), dan menyediakan area resapan air untuk mengurangi risiko banjir lokal di sekitar rusun.
Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu
2. Manfaat Sosial
Penyediaan Ruang Interaksi Sosial (Public Space): Pembangunan community hall (aula warga)
Lingkungan yang Aman untuk Tumbuh Kembang Anak: memperhatikan faktor keselamatan (pemasangan terali pengaman, pembatasan akses kendaraan di area bermain, memberikan ruang ramah anak yang jauh lebih baik .
3. Manfaat Psikologis dan Kepastian Hukum
Menghilangkan Trauma Penggusuran dan Bencana
Peningkatan Martabat dan Rasa Percaya Diri
Secara makro, keberhasilan pengelolaan lingkungan rusun yang humanis mendukung visi Kota Semarang Kota Metropolitan yang Berkelanjutan dan Inklusif.
Inovasi ini bertujuan untuk mentransformasi paradigma pembangunan dari yang sekadar "membangun fisik kota" menjadi "membangun kehidupan warga kota", khususnya bagi masyarakat yang direlokasi ke lingkungan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) maupun penataan kawasan kumuh horizontal.
. Memanusiakan Manusia melalui Penyediaan Hunian Layak dan Sehat
Tujuan utama dari inovasi ini adalah menggeser pendekatan penataan permukiman yang represif menjadi persuasif dan integratif.
Menjamin Hak Dasar Atas Perumahan: Menyediakan hunian vertikal (rusunawa) yang kokoh, aman, dan memiliki kepastian hukum bagi warga rentan, terutama mereka yang terdampak bencana rob pesisir atau program normalisasi sungai di Semarang.
Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat: Menciptakan lingkungan rusun yang bersih dengan sistem sanitasi terpadu (IPAL), pengelolaan sampah berbasis komunitas, dan akses air bersih guna menurunkan angka stunting serta penyakit berbasis lingkungan.
2. Mempertahankan dan Menghidupkan Kembali Budaya Guyub Nusantara
Vertikalisasi hunian sering kali memicu individualisme. Inovasi humanis bertujuan mencegah terjadinya isolasi sosial di rusunawa.
Merekatkan Kohesi Sosial: Menyediakan ruang publik yang inklusif (aula warga, taman bermain, dan ruang bersama) sebagai wadah pelestarian tradisi lokal Semarang, seperti kegiatan sarasehan, kerja bakti, hingga seni budaya warga.
Membangun Manajemen Konflik yang Partisipatif: Membentuk sistem tata kelola rusun berbasis paguyuban warga yang demokratis, sehingga setiap regulasi kenyamanan hunian diputuskan melalui musyawarah, bukan paksaan top-down.
3. Menjaga Keberlanjutan Ekonomi Warga (Asas Keberdayaan)
Inovasi ini bertujuan mematahkan mitos bahwa pindah ke rusun akan memutus mata pencaharian warga.
Integrasi Fasilitas Ekonomi (Zonasi Usaha): Menyediakan ruang usaha yang legal dan tertata di lantai dasar rusun atau area khusus (seperti pujasera dan lapak kelontong) agar roda ekonomi warga tetap berputar.
Memangkas Biaya Hidup Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR): Melalui skema subsidi sewa yang ramah kantong dan pengintegrasian lokasi rusun dengan jaringan transportasi publik Kota Semarang (Trans Semarang), sehingga biaya mobilitas warga menuju pusat kerja tetap efisien.
4. Memulihkan Psikologis dan Mengembalikan Martabat Warga
Tujuan ini menyasar aspek batiniah dan mentalitas masyarakat pasca-relokasi.
Menghilangkan Trauma Bencana dan Penggusuran: Memberikan rasa aman jangka panjang (sense of security) dari ancaman banjir rob tahunan atau penggusuran liar, sehingga warga dapat hidup dengan tenang.
Meningkatkan Rasa Percaya Diri (Dignity): Mengangkat martabat MBR dengan memberikan lingkungan tinggal yang bersih, modern, dan tertata, yang secara psikologis berdampak positif pada tumbuh kembang dan motivasi masa depan anak-anak rusun.
5. Mewujudkan Tata Ruang Kota Semarang yang Estetis dan Berkelanjutan
Secara makro, inovasi ini bertujuan mendukung visi strategis Pemerintah Kota Semarang.
Reduksi Kawasan Kumuh secara Signifikan: Mengubah wajah kawasan kumuh menjadi ruang terbuka hijau (RTH) atau daerah resapan air, sementara warganya ditata ke dalam hunian vertikal yang lebih efisien dalam penggunaan lahan kota.
Menjaga Keseimbangan Ekologi: Mengintegrasikan konsep ramah lingkungan (green building skala mikro) pada rusunawa untuk mengurangi efek panas kota (urban heat island) dan menjaga kelestarian alam perkotaan.
Terlaksananya penanganan kawasan permukiman yang humanis Di Kota Semarang sebagai langkah untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dengan adanya kawasan permukiman yang layak, bebas kumuh dan berkualitas.