UPTD Puskesmas Purwoyoso yang berada di lokasi strategis tengah kota dengan mobilitas tinggi dan jumlah penduduk sebanyak 38.216 jiwa berpotensi banyak kasus hipertensi. Prevalensi kasus hipertensi dunia meningkat dari 26% di tahun 2020 menjadi 33% di tahun 2024. Data Program PISPK menunujukkan bahwa hipertensi masih menjadi masalah utama dengan capaian 82,73%. Menempati peringkat kedua di 10 besar penyakit, dan muncul dalam masalah prioritas pada kegiatan kegiatan Survei Mawas Diri (SMD) dan Musyawarah Masyarakat Kelurahan (MMK) di Kelurahan Purwoyoso dan Kalipancur.
Inovasi MASPUR HEPI (Puskesmas Purwoyoso Atasi hipertensi dengan Taman Hepi) hadir untuk menjawab permasalahan hipertensi dengan berbasis pemberdayaan masyarakat. Kegiatan MASPUR HEPI yang terdiri dari penyuluhan, pembuatan Taman Hepi, praktik pembuatan Jamu Anti Hipertensi, sosialisasi pijat akupresur, dan pengoptimalan media promkes.
Upaya penurunan angka hipertensi berhasil melalui Inovasi MASPUR HEPI dibuktikan dengan menurunnya kasus hipertensi selama tiga tahun terakhir. Data Simpus Puskesmas Purwoyoso menunjukkan kasus hipertensi telah mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Terdapat 2.284 kasus pada tahun 2022 kemudian menjadi 782 kasus di tahun 2023 dan kembali turun 17,4% menjadi 213 kasus tahun 2024. Dari data PKP (Penilaian Kinerja Puskesmas) Hipertensi diketahui terdapat penurunan dari 7.345 kasus pada 2023 menjadi 6,244 kasus pada 2024 dengan penurunan prevalensi hipertensi sebesar 5,5%.
Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalam arteri di atas 140/90 mm/hg. Hipertensi atau tekanan darah tinggi disebut sebagai "Silent Killer" karena sering tidak menimbulkan gejala yang jelas. Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang berbahaya dan dapat berakibat fatal. Hipertensi dapat memicu penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, dan retinopati. Wilayah kerja UPTD Puskesmas Purwoyoso yang berada di lokasi strategis tengah kota dengan mobilitas tinggi dan jumlah penduduk yang padat sebanyak 38.216 pada tahun 2024 berpotensi meningkatnya kejadian kasus hipertensi. Menurut data yang dihimpun, kasus hipertensi cenderung meningkat. Prevalensi kasus hipertensi dunia meningkat dari 26% di tahun 2020 menjadi 33% di tahun 2024, sedangkan prevalensi kasus hipertensi di Indonesia berada pada angka 33,7% di tahun 2020 menjadi 36% ditahun 2024. Gambaran gawatnya kasus ini juga terlihat dari beberapa data yaitu PISPK (Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga) tahun 2024 yang menunjukkan bahwa kasus hipertensi yang tidak minum obat secara teratur menduduki peringkat pertama dengan presentase 82,73%. Data simpus puskesmas yaitu 10 besar penyakit, angka hipertensi berada di peringkat kedua setelah diabetes di atas 280 kasus cut off Bulan Desember 2024. Sedangkan penderita hipertensi berdasarkan kelamin menurut data Dashboard Dinas Kesehatan di UPTD Puskesmas Purwoyoso menunjukkan jumlah penderita wanita sebanyak 5230 jiwa sedangkan laki-laki sebanyak 1619 jiwa. Masalah hipertensi ini juga masuk dalam masalah prioritas kegiatan Survei Mawas Diri (SMD) dan Musyawarah Masyarakat Kelurahan (MMK) di Kelurahan Purwoyoso dan Kalipancur di urutan nomor 3 setelah Tuberkulosis dan Demam Berdarah. Data kasus hipertensi juga di breakdown berdasarkan wilayah kerja atau RW yang tergambar di peta potensial dampak dilihat dari segi keterpaparan, kerentanan, dan potensial dampak itu sendiri yang menunjukkan bahwa ini merupakan masalah serius yang harus segera dilakukan intervensi lanjutan. Inovasi ini sejalan dengan kondisi kesehatan masyarakat wilayah kerja Puskesmas Purwoyoso yang bersumber dari beberapa data yaitu PIS-PK, Potensial Dampak, 10 besar penyakit, Dashboard Kesehatan, dan SMD MMK dengan banyaknya kasus hipertensi. Oleh karena itu munculah sebuah inovasi yang bernama MASPUR HEPI atau Puskesmas Purwoyoso Atasi Hipertensi dengan Taman Hepi.
MASPUR HEPI atau Puskesmas Purwoyoso Atasi Hipertensi dengan Taman Hepi adalah inovasi intervensi program penanggulangan dan pencegahan hipertensi yang bertujuan untuk menurunkan angka hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Purwoyoso dengan jumlah penduduk 38.216 jiwa dengan berbasis pemberdayaan masyarakat. Sasaran utama dari kegiatan ini adalah masyarakat dengan diagnosa hipertensi dan masyarakat yang berisiko hipertensi khususnya di wilayah kerja UPTD Puskesmas Purwoyoso. Pada tahun ini inovasi kembali lagi dikembangkan di RW 3 Kalipancur sesuai dengan kasus dan gambaran potensial dampak.
Inovasi MASPUR HEPI memberikan kontribusi yang sangat signifikan pada penurunan angka hipertensi dengan berbasis pemberdayaan masyarakat. Kegiatan MASPUR HEPI yang terdiri dari penyuluhan, pembuatan Taman Hepi yaitu tanaman obat keluarga yang berisi tanaman anti-hipertensi, praktik pembuatan Jamu Anti Hipertensi, Sosialisasi Pijat Akupresur untuk gejala pusing dan mual yang bisa dilakukan secara mandiri oleh masyarakat. Inovasi MASPUR HEPI telah dilaksanakan sejak tahun 2022. Data Simpus (Sistem Informasi dan Manajemen Puskesmas) Puskesmas Purwoyoso menunjukkan kasus hipertensi telah mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Terdapat 2.284 kasus pada tahun 2022 kemudian menjadi 782 kasus di tahun 2023 dan kembali turun 17,4% menjadi 213 kasus tahun 2024. Kemudian dari data PKP (Penilaian Kinerja Puskesmas) Hipertensi diketahui terdapat penurunan dari 7.345 kasus pada 2023 menjadi 6,244 kasus pada 2024 dengan penurunan prevalensi hipertensi sebesar 5,5%. Upaya penanganan kasus hipertensi sejalan dengan salah satu tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) Sustainable yaitu pengendalian hipertensi di dunia dan sejalan dengan Visi Kota Semarang yaitu Terwujudnya Kota Semarang yang Semakin Hebat berlandaskan Pancasila dalam Bingkai NKRI yang Ber-Bhinneka Tunggal Ika dan Misi Meningkatkan kualitas dan kapasitas Sumber Daya Manusia yang unggul dan produktif untuk mencapai kesejahteraan dan keadilan sosial.
Inovasi MASPUR HEPI atau Puskesmas Purwoyoso Atasi Hipertensi dengan Taman Hepi mulai berjalan sejak terbitnya Surat Keputusan Kepala Puskesmas Purwoyoso nomor 083.155/SK/III/2022 tentang pembentukan Inovasi MASPUR HEPI. Inovasi ini muncul karena angka hipertensi di wilayah Kerja UPTD Puskesmas Purwoyoso meningkat setiap tahunnya dan kepatuhan minum obat hipertensi masih rendah. Hasil diskusi akar penyebab masalah penderita hipertensi tidak berobat teratur dari pemangku wilayah, kader, dan tokoh masyarakat yaitu:
Sedangkan penyebab meningkatnya kasus hipertensi antara lain pola makan yang tidak sehat, riwayat kesehatan sebelumnya, genetic, stress, dan lain- lain padahal penderita hipertensi diharuskan untuk minum obat teratur. Tekanan darah yang tidak terkontrol akan berisiko mengakibatkan timbulnya penyakit. Inovasi MASPUR HEPI dikembangkan karena banyaknya kasus hipertensi di wilayah kerja, sebanyak 6.244 jiwa di wilayah kerja UPTD Puskesmas Purwoyoso hidup dengan hipertensi. Inovasi ini menjadi upaya untuk menurunkan angka hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Purwoyoso dengan cara alami dan berbasis pemberdayaan masyarakat.
Inovasi MASPUR HEPI memiliki keunggulan dengan inovasi sejenis dalam hal sebagai berikut:
Kegiatan MASPUR HEPI terdiri dari pra-kegiatan, saat Hari-H pelaksanaan, dan pasca kegiatan yang dijabarkan sebagai berikut.
Menyampaikan hasil analisis data dan memperkenalkan inovasi kepada lintas program yang mempunyai kegiatan sejenis agar bias kolaborasi.
Menyampaikan maksud dan tujuan program MASPUR HEPI dan dampak bagi masyarakat.
Pembaharuan SK Tim dan berkas pretest posttest serta persiapan alat dan bahan pelaksanaan kegiatan
Penetapan lokasi di RW 3 Kalipancur berdasarkan data kasus dan koordinasi dengan pemangku wilayah setempat. SK Tim dan administrasi serta persiapan alat dan bahan pelaksanaan kegiatan
Penyuluhan mengenai hipertensi dan pengenalan Inovasi MASPUR HEPI di RW 3 Kalipancur serta pelaksanaan pretest dan post test di akhir kegiatan untuk mengukur pengetahuan masyarakat.
Penanaman bibit tanaman anti-hipertensi seperti selederi, kemangi, jahe, kumis kucing, temulawak, pegagan, kapulaga, peterseli, thyme, dan lain-lain.
Pembuatan Jamu Anti Hipertensi dengan bahan ayng diambil di MASPUR HEPI meliputi kunyit, kencur, kapulaga, pandan, temulawak, gula aren, kayu manis.
Kegiatan pemantauan berjalannya program melalui ceklis monitoring dan evaluasi program sesuai RPK (Rencana Pelaksanaan Kegiatan) di tahun berjalan.
Akan diusulkan dalam RUK (Rencana Usulan Kegiatan) BOK di tahun selanjutnya,
Dalam melaksanakan inovasi MASPUR HEPI, keterlibatan lintas sector menjadi salah satu hal yang wajib dilakukan, focus penanaman MASPUR HEPI adalah Toga Anti Hipertensi. Taman ini nantinya bisa diolah dan dimanfaatkan langsung oleh warga
Inovasi MASPUR HEPI memiliki nilai tambah yang digambarkan dalam table sebagai berikut:
|
Kategori |
Sebelum Inovasi |
Sesudah Inovasi |
|
Man |
Pencegahan dilakukan Individu |
Melibatkan lintas sector terkait |
|
Money |
Estimasi Jumlah penderita x Rupiah Obat Tahun 2022 2284 x 4000 =9.136.000 |
Estimasi Jumlah penderita x Rupiah Obat Tahun 2024 213 x 4000 =852.000 |
|
Material |
Bahan kimia obat |
Ditambah dengan Toga Anti Hipertensi |
|
Machine |
Hanya individu tersebut |
Nakes puskesmas, pemangku wilayah, dan warga |
|
Methode |
Hanya dengan obat konvensional |
Disertai dengan minuman herbal dan pijat akupresur |
Bentuk kebaruan inovasi MASPUR HEPI dapat ditunjukkan dengan tabel komparasi inovasi dari tahun ke tahun yang terus mengalami perkembangan sebagai berikut:
|
2022 |
2023 |
2024 |
2025- dan seterusnya |
|
Edukasi Hipertensi |
Edukasi Hipertensi |
Edukasi Hipertensi |
Edukasi Hipertensi |
|
Pembuatan Taman Hepi |
Pembuatan Taman Hepi |
Pembuatan Taman Hepi |
Pembuatan taman Hepi |
|
Praktik Pembuatan Jamu Anti-Hipertensi |
Praktik Pembuatan Jamu Anti-Hipertensi |
Praktik Pembuatan Jamu Anti-Hipertensi |
|
|
Sosialisasi Akupresur Hipertensi |
Sosialisasi Akupresur Hipertensi |
||
|
Pengoptimalan Media Promkes |
Implementasi kegiatan dirincikan dalam sebuah SOP Inovasi MASPUR HEPI sebagai berikut:
Adanya kolaborasi lintas program dan lintas sektor dalam pemberdayaan masyarakat. Memastikan bahwa inovasi sudah berjalan sepenuhnya. Penurunan angka hipertensi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Purwoyoso dibuktikan dengan turunnya angka kejadian kasus di data SIMPUS selama tiga tahun terakhir. Terdapat 2.284 kasus pada tahun 2022 kemudian menjadi 782 kasus di tahun 2023 dan kembali turun 17,4% menjadi 213 kasus tahun 2024. Dengan demikian menyumbang penurunan kasus hipertensi khususnya di Kota Semarang.
Setelah dilaksanakan, inovasi MASPUR HEPI merupakan bentuk inovasi berdampak karena membawa dampak signifikan bagi masyarakat dalam upaya penanggulangan masalah hipertensi selain menggunakan obat konvensional, pada akhirnya akan menurunkan kasus hipertensi di wilayah kerja. Dampak ini dapat ditunjukkan melalui sebuah tabel kondisi sebelum (before) and sesudah (after) yang berbasis indikator kinerja pada table berikut:
|
No |
Sumber Data |
Sebelum |
Sesudah |
|
1. |
Simpus |
Tahun 2022 : 2284 kasus |
Tahun 2024 : 213 kasus |
|
2. |
PKP Dinas Kesehatan |
Tahun 2022 : 6872 kasus |
Tahun 2024 : 6244 kasus |
|
3. |
Prevalensi Penurunan Simpus |
Tahun 2022 : 0 |
Tahun 2024 : 17,4% |
|
3. |
Prevalensi Penurunan PKP |
Tahun 2022 : 0
|
Tahun 2024 : 5,5% |
Berdasarkan data di atas diketahui bahwa upaya penurunan angka hipertensi berhasil melalui Inovasi MASPUR HEPI dibuktikan dengan menurunnya kasus hipertensi serta prevalensi selama tiga tahun terakhir di wilayah kerja. Data Simpus (Sistem Informasi dan Manajemen Puskesmas) Puskesmas Purwoyoso menunjukkan kasus hipertensi telah mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Terdapat 2.284 kasus pada tahun 2022 kemudian menjadi 782 kasus di tahun 2023 dan kembali turun 17,4% menjadi 213 kasus tahun 2024. Dari data PKP (Penilaian Kinerja Puskesmas) Hipertensi diketahui terdapat penurunan dari 7.345 kasus pada 2023 menjadi 6,244 kasus pada 2024 dengan penurunan prevalensi hipertensi sebesar 5,5%.
Kondisi ini membawa manfaat yang sangat luas di bidang Kesehatan yang khususnya bagi masyarakat dengan diagnose hipertensi yang tidak berobat secara teratur untuk memulai sebuah acara baru dalam mengontrol tekanan darahnya. Dengan kondisi yang semakin terkontrol akan megurangi jumlah masyarakat sakit sehingga bias mengurangi beban pembiayaan kesehatan. Dengan demikian angka harapan hidup di kota semarang menjadi meningkat dari 77,69% tahun 2022 menjadi 78,24% tahun 2024.
Inovasi MASPUR HEPI telah dievaluasi atau dinilai oleh berbagai pihak, baik secara internal maupun secara eksternal. Evaluasi Internal dilakukan oleh Tim Mutu UPTD Puskesmas Purwoyoso. Evaluasi ditekankan pada sejauh mana kemampuan inovasi MASPUR HEPI dalam menurunkan angka hipertensi dengan berbasis pemberdayaan masyarakat sehingga memberikan tingkat kepuasan masksimal kepada masyarakat. Evaluasi juga dilakukan melalui tinjauan eksternal oleh lintas sektor untuk melihat progres pencapaian dampak program pada masyarakat terkait. Inovasi MASPUR HEPI sebagai salah satu dukungan Sustainable Development Goals (SDGs) pengendalian hipertensi. Hasil evaluasi memberikan rekomendasi perbaikan dan penyempurnaan inovasi secara berkelanjutan, yang telah disikapi langsung oleh Puskesmas Purwoyoso dan Lintas Sektor terkait dalam rangka penyempurnaan kerja Standar Pelayanan Minimal (SPM). SPM hipertensi adalah Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan penderita hipertensi dan dapat digunakan untuk memantau pelayanan kesehatan penderita hipertensi. Standar Pelayanan Minimal (SPM) Kesehatan Kota Semarang adalah ketentuan yang mengatur jenis dan mutu pelayanan kesehatan dasar yang berhak diperoleh warga negara. Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Walikota (PERWALI) Kota Semarang Nomor 80 Tahun 2019. Dalam pelayanan kesehatan hipertensi sesuai standar, salah satunya yaitu edukasi perubahan gaya hidup dan/atau kepatuhan minum obat. Hal ini berdampak sangat signifikan pada pengentasan kemiskinan (kesehatan) karena beban alokasi pengobatan bisa dialihkan unutuk kegiatan promotive dan preventif.
Pemerintah Kota Semarang sangat memperhatikan kebutuhan kesehatan warganya dan turut serta meningkatkan kesejahteraan warganya melalui program kesehatan. Hal ini sesuai dengan arah tujuan pemerintah yakni meningkatkan kualitas manusia Indonesia khususnya dari aspek kesehatan. Melalui Inovasi MASPUR HEPI UPTD Puskesmas Purwoyoso tidak hanya berfokus pada pasien hipertensi melainkan juga menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan antara lain (1)Edukasi dan sosialisasi hipertensi (2) Pemanfaatan lahan masyarakat menjadi MASPUR HEPI (Puskesmas Purwoyoso Atasi Hipertensi dengan Taman Hepi) (2) Pengolahan hasil panen MASPUR HEPI yang bisa bernilai ekonomi (3) Koordinasi lintas sektor dan pihak swasta, (4) Pembentukan Asuhan Mandiri Toga dan Akupresure dengan pendampingan Puskesmas. Dari segi layanan, kegiatan ini lebih bisa menjagkau semua masyarakat di suatu wilayah karena rasa memiliki terhadap kegiatan tersebut dan dampak positifnya bisa dirasakan masyarkat secara langsung.
Inovasi MASPUR HEPI yang berdasarkan pemberdayaan masyarakat kontinuitas dan potensial untuk bisa direplikasi oleh fasilitas kesehatan lainnya, karena setiap wilayah potensial terdapat kasus hipertensi yang tinggi. Pendampingan dan kolaborasi dari tenaga kesehatan terkait seperti promosi kesehatan, pemegang program kesehatan tradisional, keterlibatan lintas sector, serta respon positif dari masyarakat memudahkan untuk dikembangkan di tempat lain. Di Puskesmas Purwoyoso sendiri latar belakang dilakukannya kegiatan untuk menurunkan kasus hipertensi yang tinggi dan minat masyarakat untuk berobat yang rendah. Hal ini sesuai dengan data PISPK yang menunjukkan bahwa penderita hipertensi sejumlah 6.254 dan hanya 82,73% yang rutin minum obat secara teratur, walaupun capaiannya sudah naik dari tahun sebelumnya yaitu 78,07%. Inovasi MASPUR HEPI ini sangat tepat digunakan untuk menjawab persoalan dan menjadi solusi penurunan angka hioertensi dengan berbasis pemberdayaan masyarakat yang sangat mungkin untuk direplikasi. Terbukti UPTD Puskesmas Karangtengah Kabupaten Demak mau mempelajari inovasi MASPUR HEPI. dibuktikan melalui Surat Pernyataan UPTD Puskesmas Karangtengah Kabupaten Demak Nomor : 445/213/6/2024 Selain itu, UPTD Puskesmas Tambakaji Kota Semarang juga mempelajari inovasi ini yang tercantum dalam surat pernyataan bahwa akan mereplikasi Inovasi MASPUR HEPI. Lokasi di daerah urban yang cenderung menggunakan obat konvensional untuk penanganan hipertensi adalah sasaran potensial untuk pelaksanaan inovasi ini, tanaman yang mudah didapat serta dikembangkangkan juga merupakan factor pendorong adaptabilitas inovasi.
Inovasi MASPUR HEPI mudah diterapkan dan diadaptasi oleh daerah lain. Pertama bahwa pelayanan hipertensi merupakan salah satu dari 12 indikator penilaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) di bidang kesehatan yang dijamin oleh pemerintah untuk keberlangsungannya. Kedua berdasarkan Permenkes Nomor 15 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer bahwa Obat Tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun. Ketiga MASPUR HEPI didukung dengan peran masyarakat sebagai subjek pertama serta dukungan lintas program dan lintas sektor yang merupakan kolaborasi dengan pemangku wilayah terkait secara gotong-royong sehingga memudahkan direplikasikan di daerah lain. Masyarakat mendapatkan manfaat dan kemudahan karena dengan adanya MASPUR HEPI bisa memotivasi masyarakat menggunaan bahan alami selain obat konvensional untuk membantu mengontrol tekanan darah dan menurunkan angka hipertensi.
Masyarakat cukup menyediakan lahan di wilayah tempat tinggal mereka, kemudian secara swadaya melakukan penanaman beberapa tanaman anti-hipertensi tersebut yang mudah didapat. Membuat jadwal penyiraman dan perawatan MASPUR HEPI agar bisa dipantau dan dievaluasi. Setelah beberapa waktu tanaman tanaman akan siap di panen. Masyarakat bisa langsung memanfaatkan tanaman tersebut, apabila tersedia dala, jumlah yang banyak maka bias diolah juga menjadi jamu anti-hipertensi sesuai dengan resep yang disampaikan oleh pihak puskesmas. Olahan ini juga bias bernilai ekomomis apabila dikelola secara maksimal, misalnya melibatkan KWT (Kelompok Wanita Tani) maupun PKK karena bisa berpotensi menjadi ikon minuman sehat di wilayah setempat, bernilai ekonomis, dan mudah dipasarkan. Sedangkan untuk kegiatan akupresusr bias dipraktikkan dan di tularkan kepada masyarakat lainnya, misal melalui kegiatan PKK atau pengajian rutin. Panduan akupresur juga sudah disampaikan kepada masyarakat agar bisa dipelajari. Masyarakat yang awalnya hanya bergantung kepada obat untuk menurunkan tekanan darah bisa mencoba unutuk menyandingkan degan jamu tersebut. Selain lebih ekonomis tentunya segala macam bentuk olahan yang dibuat dari bahan alami akan lebih sehat dan ramah unutuk tubuh. sangat terbantu dan optimis dengan sebuah inovasi dan pembaharuan. Dengan inisiatif masyarakat Harapannya informasi ini tidak hanya berhenti kepada satu pokok masyarakat. Masyarakat sangat terbantu dalam alih fungsi pemanfaatan lahan kosong menjadi sebuah Taman Toga khusus hipertensi, meningkatkan program pemberdayaan masyarakat, agar tercipta masyarakat yang hangat, pemanfaatan olahan hasil taman agar bisa mengontrol tekanan darah khususnya bagi warga sekitar.
Pihak lain yang melakukan replikasi inovasi MASPUR HEPI mendapatkan kemudahan karena inovasi ini telah menjadi kewajiban bagi semua daerah, bisa dikolaborasikan dengan pihak terkait dan mengutamakan pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaannya.
MASPUR HEPI dapat menjadi salah satu kegiatan positif di lingkungan masyarakat dan mempunyai dampak positif meningkatkan minat masyarakat dalam penurunan angka hipertensi menggunakan bahan alami sebagai penurun hipertensi.
Dalam aspek ekonomi bernilai positif karena memanfaatkan toga di lingkungan sekitar untuk pengobatan hipertensi secara alami dan bisa diolah menjadi jamu anti-hipertensi yang mempunyai nilai ekonomi.
Evaluasi dinilai dari kepatuhan minum obat serta angka hipertensi yang menurun di wilayah kerja. Capaian yang baik artinya masyarakat yang hipertensi mau dan mampu untuk berobat secara teratur. Diharapkan hal itu sejalan dengan menurunnya angka hipertensi masyarakat.
Sumber daya yang digunakan untuk membuat inovasi MASPUR HEPI dapat di gambarkan dalam tabel sebagai berikut:
|
NO. |
SUMBER DAYA |
KONDISI |
|
1. |
Sumber Daya Manusia |
|
|
2. |
Metode |
|
|
3. |
Dana (Money) |
|
|
4. |
Sarana Prasarana |
|
Dalam rangka menggerakkan dan mengoptimalkan sumber daya telah dilakukan kerjasama, kolaborasi dan koordinasi diantara berbagai pemangku kepentingan, Dinas Kesehatan Kota Semarang, lintas sektor, masyarakat, Kemudian sudah juga ditetapkan berbagai regulasi pemanfaatan toga, penganggaran, SDM dan sarana prasarana untuk menjamin keberlanjutan dukungan sumber daya bagi pelaksanaan inovasi MASPUR HEPI.
MASPUR HEPI dirancang untuk dijamin keberlanjutannya karena begitu besarnya kemanfaatan diperoleh. Beberapa langkah jaminan keberlanjutan dilakukan dengan pelaksanaan strategi berikut :
Keberhasilan inovasi MASPUR HEPI tidak lepas dari keterlibatan secara aktif dengan beberapa pemangku kepentingan mulai dari merancang, melaksanakan, mengevaluasi, dan memastikan keberlanjutan program inovasi.
Peran masing-masing pemangku kepentingan diperoleh dari pertemuan lintas sektoral dapat diuraikan sebagai berikut:
|
No. |
Pemangku Kepentingan |
Peran |
|
1. |
Walikota Semarang |
Sebagai pengambil keputusan tingkat daerah |
|
2. |
Dinas Kesehatan Kota |
Memfasilitasi pelatihan penyusunan proposal inovasi |
|
4. |
Lurah |
Memberi dukungan, arahan dan evaluasi. |
|
5. |
Puskesmas |
Mendampingi berjalannya kegiatan |
|
6. |
RW |
Kolaborasi kegiatan dengan masyarakat. |
|
7 |
Masyarakat |
Sebagai subjek utama dalam pelaksanaan kegiatan MASPUR HEPI |
|
No |
Kegiatan |
Waktu Pelaksanaan |
|
1. |
Kegiatan Pelatihan Pengolahan Tanaman Tradisional |
Satu tahun sekali |
|
2. |
Pendataan Toga warga |
Setahun sekali |
|
3. |
Sosialisasi Pembuatan Jamu Anti-Hipertensi |
Sejak berlakunya SOP |
|
4. |
Pengembangan Sosialisasi Akupresur |
|
|
5. |
SOP Pelayanan Hipertensi |
Sejak berlakunya SOP |
|
6. |
SOP Pelayanan Toga |
|
|
7. |
Pengembangan kegiatan minum jamu di pelayanan public |
Sejak berlakunya SOP |
MASPUR HEPI atau Puskesmas Purwoyoso Atasi Hipertensi dengan Taman Hepi adalah inovasi intervensi program penanggulangan dan pencegahan hipertensi yang bertujuan untuk menurunkan angka hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Purwoyoso dengan jumlah penduduk 38.216 jiwa dengan berbasis pemberdayaan masyarakat. Sasaran utama dari kegiatan ini adalah masyarakat dengan diagnosa hipertensi dan masyarakat yang berisiko hipertensi khususnya di wilayah kerja UPTD Puskesmas Purwoyoso. Pada tahun ini inovasi kembali lagi dikembangkan di RW 3 Kalipancur sesuai dengan kasus dan gambaran potensial dampak.
Inovasi MASPUR HEPI memberikan kontribusi yang sangat signifikan pada penurunan angka hipertensi dengan berbasis pemberdayaan masyarakat. Kegiatan MASPUR HEPI yang terdiri dari penyuluhan, pembuatan Taman Hepi yaitu tanaman obat keluarga yang berisi tanaman anti-hipertensi, praktik pembuatan Jamu Anti Hipertensi, Sosialisasi Pijat Akupresur untuk gejala pusing dan mual yang bisa dilakukan secara mandiri oleh masyarakat. Inovasi MASPUR HEPI telah dilaksanakan sejak tahun 2022. Data Simpus (Sistem Informasi dan Manajemen Puskesmas) Puskesmas Purwoyoso menunjukkan kasus hipertensi telah mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Terdapat 2.284 kasus pada tahun 2022 kemudian menjadi 782 kasus di tahun 2023 dan kembali turun 17,4% menjadi 213 kasus tahun 2024. Kemudian dari data PKP (Penilaian Kinerja Puskesmas) Hipertensi diketahui terdapat penurunan dari 7.345 kasus pada 2023 menjadi 6,244 kasus pada 2024 dengan penurunan prevalensi hipertensi sebesar 5,5%. Upaya penanganan kasus hipertensi sejalan dengan salah satu tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) Sustainable yaitu pengendalian hipertensi di dunia dan sejalan dengan Visi Kota Semarang yaitu Terwujudnya Kota Semarang yang Semakin Hebat berlandaskan Pancasila dalam Bingkai NKRI yang Ber-Bhinneka Tunggal Ika dan Misi Meningkatkan kualitas dan kapasitas Sumber Daya Manusia yang unggul dan produktif untuk mencapai kesejahteraan dan keadilan sosial.
Berdasarkan data di atas diketahui bahwa upaya penurunan angka hipertensi berhasil melalui Inovasi MASPUR HEPI dibuktikan dengan menurunnya kasus hipertensi serta prevalensi selama tiga tahun terakhir di wilayah kerja. Data Simpus (Sistem Informasi dan Manajemen Puskesmas) Puskesmas Purwoyoso menunjukkan kasus hipertensi telah mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Terdapat 2.284 kasus pada tahun 2022 kemudian menjadi 782 kasus di tahun 2023 dan kembali turun 17,4% menjadi 213 kasus tahun 2024. Dari data PKP (Penilaian Kinerja Puskesmas) Hipertensi diketahui terdapat penurunan dari 7.345 kasus pada 2023 menjadi 6,244 kasus pada 2024 dengan penurunan prevalensi hipertensi sebesar 5,5%.
Kondisi ini membawa manfaat yang sangat luas di bidang Kesehatan yang khususnya bagi masyarakat dengan diagnose hipertensi yang tidak berobat secara teratur untuk memulai sebuah acara baru dalam mengontrol tekanan darahnya. Dengan kondisi yang semakin terkontrol akan megurangi jumlah masyarakat sakit sehingga bias mengurangi beban pembiayaan kesehatan. Dengan demikian angka harapan hidup di kota semarang menjadi meningkat dari 77,69% tahun 2022 menjadi 78,24% tahun 2024.
Inovasi MASPUR HEPI telah dievaluasi atau dinilai oleh berbagai pihak, baik secara internal maupun secara eksternal. Evaluasi Internal dilakukan oleh Tim Mutu UPTD Puskesmas Purwoyoso. Evaluasi ditekankan pada sejauh mana kemampuan inovasi MASPUR HEPI dalam menurunkan angka hipertensi dengan berbasis pemberdayaan masyarakat sehingga memberikan tingkat kepuasan masksimal kepada masyarakat. Evaluasi juga dilakukan melalui tinjauan eksternal oleh lintas sektor untuk melihat progres pencapaian dampak program pada masyarakat terkait. Inovasi MASPUR HEPI sebagai salah satu dukungan Sustainable Development Goals (SDGs) pengendalian hipertensi. Hasil evaluasi memberikan rekomendasi perbaikan dan penyempurnaan inovasi secara berkelanjutan, yang telah disikapi langsung oleh Puskesmas Purwoyoso dan Lintas Sektor terkait dalam rangka penyempurnaan kerja Standar Pelayanan Minimal (SPM). SPM hipertensi adalah Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan penderita hipertensi dan dapat digunakan untuk memantau pelayanan kesehatan penderita hipertensi. Standar Pelayanan Minimal (SPM) Kesehatan Kota Semarang adalah ketentuan yang mengatur jenis dan mutu pelayanan kesehatan dasar yang berhak diperoleh warga negara. Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Walikota (PERWALI) Kota Semarang Nomor 80 Tahun 2019. Dalam pelayanan kesehatan hipertensi sesuai standar, salah satunya yaitu edukasi perubahan gaya hidup dan/atau kepatuhan minum obat. Hal ini berdampak sangat signifikan pada pengentasan kemiskinan (kesehatan) karena beban alokasi pengobatan bisa dialihkan unutuk kegiatan promotive dan preventif.
Inovasi MASPUR HEPI memiliki nilai tambah yang digambarkan dalam table sebagai berikut:
|
Kategori |
Sebelum Inovasi |
Sesudah Inovasi |
|
Man |
Pencegahan dilakukan Individu |
Melibatkan lintas sector terkait |
|
Money |
Estimasi Jumlah penderita x Rupiah Obat Tahun 2022 2284 x 4000 =9.136.000 |
Estimasi Jumlah penderita x Rupiah Obat Tahun 2024 213 x 4000 =852.000 |
|
Material |
Bahan kimia obat |
Ditambah dengan Toga Anti Hipertensi |
|
Machine |
Hanya individu tersebut |
Nakes puskesmas, pemangku wilayah, dan warga |
|
Methode |
Hanya dengan obat konvensional |
Disertai dengan minuman herbal dan pijat akupresur |
Bentuk kebaruan inovasi MASPUR HEPI dapat ditunjukkan dengan tabel komparasi inovasi dari tahun ke tahun yang terus mengalami perkembangan sebagai berikut:
|
2022 |
2023 |
2024 |
2025- dan seterusnya |
|
Edukasi Hipertensi |
Edukasi Hipertensi |
Edukasi Hipertensi |
Edukasi Hipertensi |
|
Pembuatan Taman Hepi |
Pembuatan Taman Hepi |
Pembuatan Taman Hepi |
Pembuatan taman Hepi |
|
Praktik Pembuatan Jamu Anti-Hipertensi |
Praktik Pembuatan Jamu Anti-Hipertensi |
Praktik Pembuatan Jamu Anti-Hipertensi |
|
|
Sosialisasi Akupresur Hipertensi |
Sosialisasi Akupresur Hipertensi |
||
|
Pengoptimalan Media Promkes |
Implementasi kegiatan dirincikan dalam sebuah SOP Inovasi MASPUR HEPI sebagai berikut:
Adanya kolaborasi lintas program dan lintas sektor dalam pemberdayaan masyarakat. Memastikan bahwa inovasi sudah berjalan sepenuhnya. Penurunan angka hipertensi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Purwoyoso dibuktikan dengan turunnya angka kejadian kasus di data SIMPUS selama tiga tahun terakhir. Terdapat 2.284 kasus pada tahun 2022 kemudian menjadi 782 kasus di tahun 2023 dan kembali turun 17,4% menjadi 213 kasus tahun 2024. Dengan demikian menyumbang penurunan kasus hipertensi khususnya di Kota Semarang.
Setelah dilaksanakan, inovasi MASPUR HEPI merupakan bentuk inovasi berdampak karena membawa dampak signifikan bagi masyarakat dalam upaya penanggulangan masalah hipertensi selain menggunakan obat konvensional, pada akhirnya akan menurunkan kasus hipertensi di wilayah kerja. Dampak ini dapat ditunjukkan melalui sebuah tabel kondisi sebelum (before) and sesudah (after) yang berbasis indikator kinerja pada table berikut:
|
No |
Sumber Data |
Sebelum |
Sesudah |
|
1. |
Simpus |
Tahun 2022 : 2284 kasus |
Tahun 2024 : 213 kasus |
|
2. |
PKP Dinas Kesehatan |
Tahun 2022 : 6872 kasus |
Tahun 2024 : 6244 kasus |
|
3. |
Prevalensi Penurunan Simpus |
Tahun 2022 : 0 |
Tahun 2024 : 17,4% |
|
3. |
Prevalensi Penurunan PKP |
Tahun 2022 : 0
|
Tahun 2024 : 5,5% |
Berdasarkan data di atas diketahui bahwa upaya penurunan angka hipertensi berhasil melalui Inovasi MASPUR HEPI dibuktikan dengan menurunnya kasus hipertensi serta prevalensi selama tiga tahun terakhir di wilayah kerja. Data Simpus (Sistem Informasi dan Manajemen Puskesmas) Puskesmas Purwoyoso menunjukkan kasus hipertensi telah mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Terdapat 2.284 kasus pada tahun 2022 kemudian menjadi 782 kasus di tahun 2023 dan kembali turun 17,4% menjadi 213 kasus tahun 2024. Dari data PKP (Penilaian Kinerja Puskesmas) Hipertensi diketahui terdapat penurunan dari 7.345 kasus pada 2023 menjadi 6,244 kasus pada 2024 dengan penurunan prevalensi hipertensi sebesar 5,5%.
Kondisi ini membawa manfaat yang sangat luas di bidang Kesehatan yang khususnya bagi masyarakat dengan diagnose hipertensi yang tidak berobat secara teratur untuk memulai sebuah acara baru dalam mengontrol tekanan darahnya. Dengan kondisi yang semakin terkontrol akan megurangi jumlah masyarakat sakit sehingga bias mengurangi beban pembiayaan kesehatan. Dengan demikian angka harapan hidup di kota semarang menjadi meningkat dari 77,69% tahun 2022 menjadi 78,24% tahun 2024.