Memuat…
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH K.R.M.T WONGSONEGORO
Detail Inovasi OPD

TERPESONA (Pengawasan Pasien menggunakan Tabel yang berisi tentang Early Warning Score System, Resiko Jatuh, Perkembangan, Alergi Obat, Do Not Resusitation di RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Kota Semarang)

2 Foto
Klik gambar untuk tampilan penuh
Rancang Bangun & Perubahan

 

RANCANG BANGUN

DASAR HUKUM INOVASI

Undang-Undang Nomor 17 tahun 2023 tentang kesehatan dalam Pasal 189 menjelaskan bahwa Rumah Sakit sebagai fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perseorangan secara paripurna memiliki kewajiban dalam memberikan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminatif, dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan Rumah Sakit. Rumah Sakit memiliki kewajiban seperti yang tertuang dalam Pasal 176 yaitu Rumah Sakit Wajib menerapkan standar keselamatan pasien melalui identifikasi perubahan kondisi pasien dan penanganan kejadian yang membahayakan keselamatan pasien. Hal ini selaras dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1128 Tahun 2022 tentang Keselamatan Pasien, Penilaian Akreditasi SNAR’s Edisi 1.1 Pelayanan Dan Asuhan Pasien (PAP) Standar 3 EP 3.1 di harapkan staf klinis dilatih untuk mendeteksi (mengenali) perubahan kondisi pasien memburuk dan mampu melakukan tindakan, terdapat kriteria fisologis yang dapat membantu staf untuk mengenali sedini–dininya pasien yang kondisinya memburuk. Hal ini didukung juga oleh Peraturan Wali Kota Semarang Nomor 56 Tahun 2023 pada pasal 10 A bahwa Rumah Sakit harus memiliki dewan pengawas yang bertugas mendukung serta menyetujui program inovasi yang bertujuan untuk optimalisasi keselamatan pasien. Rumah Sakit diharapkan terus berupaya melakukan inovasi untuk melaksanakan dan menjaga standar mutu pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien.

PERMASALAHAN

Data SIRS RSD K.R.M.T Wongsonegoro pada bulan Juli sampai September 2023 menunjukan terdapat kasus insidensi alergi obat pasien rawat inap sebanyak 9 kejadian, aktivasi code blue sebanyak 72 kali, dan terdapat 11 laporan aduan pasien ranap inap terkait kurangnya kesigapan tenaga medis. Rumah Sakit RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Kota Semarang, melalukan evaluasi terkait peningkatan insidensi alergi obat, aktivasi code blue, resiko jatuh, dan aduan pasien rawat inap. Hasil rapat evaluasi Inventarisasi Masalah PMKP menunjukan bawah terdapat beberapa penyebab yaitu sebagai berikut :

  1. Media pemantauan informasi tentang kondisi pasien yang meliputi  EWSS, Resiko Jatuh,  Perkembangan Pasien, Alergi Obat, Do Not Resusitation tidak mudah di pantau sehingga kurang efektif dan efisien
  2. Lamanya waktu petugas dalam memantau kondisi semua pasien yang dirawat dalam bangsal perawatan
  3. Kurangnya komunikasi antar petugas dalam memonitoring kondisi pasien secara komperhensif dengan sistem shift
  4. Banyaknya jumlah lembar pemantauan pasien EWSS yang terpisah-pisah

ISU STRATEGIS

   Global Patient Safety Action Plan 2021–2030 merupakan langkah penting WHO dalam upaya meningkatkan keselamatan pasien di seluruh dunia dan memastikan bahwa setiap pasien mendapatkan perawatan kesehatan yang aman dan berkualitas. Fasilitas layanan Kesehatan seperti Rumah Sakit membangun sistem dan organisasi kesehatan berkeandalan tinggi yang melindungi pasien setiap hari dari bahaya. Keselamatan menjadi isu global dan terangkum dalam lima isu penting yang terkait di rumah sakit yaitu keselamatan pasien, untuk dilaksanakan terkait dengan isu mutu dan citra perumahsakitan. Gerakan (Patient Safety) keselamatan pasien telah menjadi spirit dalam pelayanan rumah sakit seluruh dunia tidak hanya rumah sakit di negara maju yang menerapkan keselamatan pasien untuk menjamin mutu pelayanan. Isu global ini selaras dengan ASTA CITA pada poin keempat tentang memperkuat pembangunan kesehatan. Pembangunann Kesehatan yang berkualitas dan aman artinya Rumah Sakit memiliki mekanisme untuk meningkatkan keselamatan pasien dengan pemantauan perubahan kondisi pasien. Pemantauan pasien sangat penting dilakukan untuk deteksi dini dan respon yang cepat ketika pasien menunjukkan penurunan kondisi baik secara klinis maupun fisiologis. Dampak yang terjadi jika sistem pemantauan pasien tidak diterapkan dengan baik dan benar adalah perburukan yang irreversible pada pasien. Media pemantauan pasien yang efektif akan meningkatkan kualitas perawat yang produktif dan berkualitas dalam identifikasi perubahan kondisi pasien, hal ini selaras Sasaran 1.3.1 RPJMD kota Semarang 2025-2029.

METODE PEMBAHARUAN

Kondisi sebelum dilakukan inovasi

  1. Media pemantauan informasi tentang kondisi pasien yang meliputi  EWSS, Resiko Jatuh,  Perkembangan Pasien, Alergi Obat, Do Not Resisitation tidak mudah di pantau sehingga kurang efektif dan efisien
  2. Lamanya waktu petugas dalam memantau kondisi semua pasien yang dirawat dalam bangsal perawatan
  3. Kurangnya komunikasi antar petugas dalam memonitoring kondisi pasien secara komperhensif dengan sistem shifting
  4. Banyaknya jumlah lembar pemantauan pasien EWSS yang terpisah-pisah
  5. Data SIRS RSD K.R.M.T Wongsonegoro pada bulan Juli sampai September 2023 menunjukan terdapat kasus insidensi alergi obat pasien rawat inap sebanyak 9 kejadian, aktivasi code blue sebanyak 72 kali, dan terdapat 11 laporan aduan pasien ranap inap terkait kurangnya kesigapan tenaga medis.

Kondisi setelah dilakukan inovasi

Hasil dari inovasi TERPESONA pada 3 bulan sebelum implentasi dan setelah implementasi pada bulan Oktober-Desember 2023 insidensi kejadian alergi obat menurun dari 10 menjadi 4, hasil aktivasi code blue menurun dari 73 menjadi 46, kejadian Jatuh menurun dari 5 menjadi 3, dan laporan aduan pasien rawat inap menurun dari 11 menjadi 4. Hasil evaluasi dari tim PMKP menunjukan hasil sebagai berikut:

    1. Monitoring EWSS, Resiko Jatuh, perkembangan Pasien, Alergi Obat, Do not Resusitation di setiap ruang Rawat Inap di RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Kota Semarang secara akurat, efektif dan efisien dalam SDM dan waktu.
    2. Perkembangan fisologis dan non fiologis pasien lebih cepat dan tepat termonitor
    3. TERPESONA mampu di laksanakan oleh semua Ruang rawat inap dengan biaya relative sangat murah.
    4. Terwujudnya Patient Safety dan caring perawat terhadap kondisi pasien
    5. Komunikasi antar perawat dalam memonitoring kondisi pasien secara komperhensif dengan sistem shifting.
    6. Kesigapan petugas meningkat

Keunggulan dan pembaharuan

Keunggulan TERPESONA

  1. TERPESONA dapat dilakukan disemua Bangsal Rawat Inap dengan biaya yang relatif murah.
  2. TERPESONA membuat pemantauan kondisi semua pasien dalam bangsal rawat inap dapat terintrepetasikan dalam satu papan tabel TERPESONA sehingga lebih mudah, lebih efektif dan meningkatan mutu pelayanan.

Pembaharuan 

Tahun 2023 inovasi TERPESONA dilakukan dengan Tabel EWSS yang ada pada Ruang Perawat dengan menggunakan kertas, pemantauan dilakukan saat shift jaga oleh perawat.

Pengembangan terpesona 2024-2025 memiliki pembaharuan :

  1. Telah dibuat menjadi papan akrilik bermagnet berwarna yang membuat lebih mudah saat penandaan kondisi pasien.
  2. Dilakukan digitalisai pemantauan hasil Interpretasi pada Tabel TERPESONA dapat diinputkan pada RM-SIWONGSO.

 

 

 

Tahapan inovasi

Ide solusi

Rumah Sakit RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Kota Semarang, melalukan evaluasi terkait peningkatan insidensi alergi obat, aktivasi code blue, resiko jatuh, dan aduan pasien rawat inap. Hasil rapat evaluasi menunjukan bawah terdapat beberapa penyebab yaitu sebagai berikut :

Sumber Data               : Data RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Kota Semarang

Periode Masalah         : Juli s/d September 2023

 

Tabel 1. Inventarisasi Masalah PMKP

No

Masalah

Frek

Temuan Dari

Instrumen

1.

Media pemantauan informasi tentang kondisi pasien yang meliputi  EWSS, Resiko Jatuh,  Perkembangan Pasien, Alergi Obat, Do Not Resusitation tidak mudah di pantau sehingga kurang efektif dan efisien

29

Anggota PMKP

Laporan

2.

Lamanya waktu petugas dalam memantau kondisi semua pasien yang dirawat dalam bangsal perawatan

18

Anggota PMKP

Laporan

3.

Kurangnya komunikasi antar petugas dalam memonitoring kondisi pasien secara komperhensif dengan sistem shift

15

Anggota PMKP

Laporan

4

Banyaknya jumlah lembar pemantauan pasien EWSS yang terpisah-pisah

20

Anggota PMKP dan Unit Pelayanan

Laporan

Tabel 2. Stratifikasi Data Masalah

No.

Masalah

Frekuensi

Frekuensi

Komulatif

% Kumulatif

1.

Media pemantauan informasi tentang kondisi pasien yang tidak mudah di lihat kurang efektif dan efisien

 

29

 

29

 

35,4%

2.

Banyaknya jumlah lembar pemantauan pasien EWSS yang terpisah-pisah

 

20

 

49

59,8%

3.

Lamanya waktu petugas dalam memantau kondisi semua pasien yang dirawat dalam bangsal perawatan

 

18

 

67

 

 

81,7%

4.

Kurangnya komunikasi antar petugas dalam memonitoring kondisi pasien secara komperhensif dengan sistem shift

 

15

 

82

 

100%

Jumlah

82

 

 

 

Hasil pengkajian statifikasi data masalah  oleh Tim mutu dan keselamatan pasien Rumah Sakit RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Kota Semarang menunjukan frekuensi tertinggi pada Media pemantauan informasi tentang kondisi pasien yang tidak mudah di lihat kurang efektif dan efisien hal ini dapat mempengaruhi kesigapan petugas dalam menghadapi perubahan kondisi pasien.

Data-data sebagai sebab yang dianggap dominan sebagaimana hasil NGT= ½ X n, pada langkah 2 kami diuji korelasinya dan signifikansinya terhadap masalah utamanya dengan menggunakan Diagram Scatter dengan nilai harus melebihi r2 = 0,51 atau r = 0,714. Scatter Diagram untuk membuktikan korelasi antara Media pemantauan informasi tentang kondisi pasien yang tidak mudah di lihat kurang efektif dan efisien (X1) dengan Kondisi pasien yang dapat berubah dengan cepat (Y).

Tabel 3. Survey Penyebab masalah Dominan Oleh 10 orang tim PMKP

X1

10

10

10

10

9

10

9

9

10

9

9

Y

5

6

6

6

7

6

7

8

6

7

9

Indikator : 

 X1      : Media pemantauan informasi tentang kondisi pasien yang tidak mudah di lihat kurang efektif dan efisien

 Y1      : Kondisi pasien yang dapat berubah dengan cepat

  Berdasarkan hasil scatter diagram, dapat disimpulkan adanya korelasi sebesar  r2 = 0,6785 atau r = 0,8237 sehingga layak ditangani sebagai penyebab dominan.

Petugas RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Kota Semarang mencatat EWSS, Resiko Jatuh, perkembangan Pasien, Alergi Obat, Do not Resusitation (DNR) dengan menggunakan form yang terpisah – pisah. Hal ini tidak efektif dan efisien dalam pemantauan pasien yang berkaitan mutu dan keselamatan pasien. Petugas dalam hal ini Perawat di RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Kota Semarang setiap harinya terbagi menjadi 3 shift kerja, dimana setiap shift terdiri 4-5 petugas, setiap petugas yang akan melakukan penggantian shift melakukan operan dan saling bertukar informasi ketika petugas melakukan operan. Waktu yang dibutuhkan petugas untuk menyelesaikan laporan kondisi pasien di RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Kota Semarang tergantung kondisi dan jumlah pasien yang dirawat pada setiap bangsal dengan melihat form EWSS setiap pasien yang terpisah-pisah sehingga membutuhkan waktu untuk komunikasi dengan petugas. Hal tersebut menjadikan proses pelaporan kondisi pasien membutuhkan waktu yang cukup lama.

Media pemantauan sangat penting untuk deteksi dini dan respon yang cepat ketika pasien menunjukkan penurunan kondisi, belum optimalnya media pemantauan pasien dalam mutu dan keselamatan pasien maka RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Kota Semarang membuat inovasi papan TERPESONA.

 

 

 

 

 

Tabel 4. Alasan Pemilihan ide solusi TERPESONA

a.

Kualitas

: kurangnya komunikasi antar petugas dalam memonitoring kondisi pasien secara komperhensif dengan sistem shift, akan menghambat proses mutu dan keselamatan pasien.

b.

Biaya

: Komunikasi dan koordinasi yang optimal dan terintegrasi melalui papan media pemantauan tidak memerlukan pembiayaan yang banyak.

c.

Penyampaian

: Pemantaun kondisi pasien menjadi lebih efektif dan efisien karena terdapat media pemantauan semua pasien yang dirawat dibangsal dalam 1 tabel papan.

d.

Keamanan

: lamanya proses operan petugas karena tidak dilakukan secara efektif dan efisien berpotensi menimbulkan komplain pasien sehingga menurunkan citra rumah sakit

e.

Etika/Moral

: komunikasi antar petugas dalam memonitoring kondisi pasien secara komperhensif yang efektif dan efisien di RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Kota Semarang akan menciptakan pelayanan kesehatan yang prima, sehingga meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap mutu pelayanan kesehatan di RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Kota Semarang.

TERPESONA yang dapat menginterpretasikan gambaran EWSS, resiko jatuh, perkembangan pasien, alergi obat, Do Not Resusitation seluruh pasien rawat inap sehingga perkembangan pasien lebih termonitor dengan lebih efektif dan efisien serta dengan biaya yang murah. Tujuan inovasi untuk meningkatkan mutu dan keselamatan pasien rawat inap secara komprehensif dengan peningkatan integritas, loyalitas, dan efektifitas kinerja pegawai di RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Kota Semarang untuk mencapai indikator Mutu dan kesalamatan pasien.

Langkah

Kegiatan

Tahun 2023

Jumlah Pertemuan

JULI

AGUSTUS

SEPTEMBER

RENC

REAL

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

   

PLAN

1.

Menentukan Tema & Judul

`

                     

1

1

                       

2.

Menganalisa Penyebab

                       

2

2

                       

3.

Menguji & Menentukan Penyebab Dominan

                       

3

2

                       

DO

4.

Membuat Rencana Perbaikan & Melakukan Perbaikan

                       

3

3

                       

CHECK

5.

Meneliti Hasil

                       

3

3

                       

ACTION

6.

Membuat Standar Baru

                       

1

1

                       

7.

Mengumpulkan Data Baru & Rencana Berikutnya

                       

1

1

                       

Keterangan

 

RENCANA

 

REALISASI

TOTAL MINGGU

14

13

                                   

 

Perancangan Sistem

TERPESONA merupakan kumpulan Format hard yang terdapat dalam status pasien sebagai alat pengkajian, berupa Monitoring EWSS, Resiko Jatuh, perkembangan Pasien, Alergi Obat, Do not resusitation. Selanjutnya hasil pengkajian kami rangkum di dalam sebuah tabel yakni berupa papan dengan cara menempelkan magnet berwarna yang masing – masing memiliki arti dan makna sendiri – sendiri ). TERPESONA RSWN Merupakan alat bantu Pemantauan yang terdiri dari EWSSs, resiko jatuh, alergi obat dan DNR terdapat dalam satu tabel sehingga proses monitor dan evaluasi terhadap pasien lebih efektif, efisien, akurat  dan yang tidak kalah penting bahwa tabel ini mampu dilaksanan dan tanpa menggunakan biaya yang mahal. Hasil pengujian menggunakan TERPESONA RSWN sangat informative penggunaanya dalam memonitor perkembangan pasien sehingga DPJP dan Keluarga Pasien dapat informasi Terkini dari Petugas.

Uji Coba Pengujian TERPESONA

Pengujian dilakukan dengan membandingkan 2(dua) Ruang Rawat Inap yang menggunakan dan yang tidak menggunakan di RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Kota Semarang dengan TERPESONA. Jumlah Kematian RS Triwulan I 9,4%, Triwulan II 19,3%, Triwulan III 18 %, Triwulan IV 16, 6. Pada tahun 2023 sampai dengan Februari sebanyak 9,8%

  1. Pengujian dilakukan di Ruang Isolasi Banowati  merupakan Ruangan yang menggunakan TEPESONA RSWN RSD K.R.M.T , didapatkan Angka kematian : Triwulan I 9,4%, Triwulan II 19,3%, Triwulan III 18 %,
  2. Pengujian dilakukan di Ruang Isolasi Arjuna 1 merupakan Ruangan yang Tidak menggunakan TEPESONA RSWN RSD K.R.M.T
  3. Hasil rapat evaluasi pengujian TERPESONA terbukti efektif sehingga inovasi ini dilanjutkan pada semua Bangsal rawat inap.

Standar Prosedur "TERPESONA”

Pasien Yang datang UGD:

    1. Lakukan pemilihan di ruang Triase
    2. Lakukan assessment kembali di ruang kohorting antara lain EWSS, resiko jatuh, alergi obat dan DNR
    3. Melakukan pemindahan ke Ruang Rawat Inap setelah transportable
    4. Tata Laksana Ruang Rawat Inap :
      1. Perawat melakukan pengkajian ulang secara berkala terkait kondisi pasien antara lain ewss, resiko jatuh, alergi obat dan DNR
      2. Perawat jaga yang melakukan assesmen kepada pasien melaporkan kepada perawat penggungjawab shift dan mengisi E-RM SIWONGSO
      3. Hasil pengkajian akan di tempel di papan TERPESONA. Perawat jaga menempelkan magnet berwarna yang menginterpreasikan semua kondisi pasien di bangsal dan melaporkan kepada perawat lain saat pergantian shift. Hasil Kondisi pasien pada papan  TERPESONA dilaporkan kepada DPJP, unit farmasi bila ada alergi obat dan keluarga penanggungjawab pasien.
      4. Keterangan penandaan :
  1. Penandaan EWSS menggunakan Form EWSS Hijau : Skoring 1- 4 ( Resiko Ringan ) Kuning : Skoring 5 – 6 ( Resiko Sedang) Merah : Skoring 7 atau lebih (Resiko Tinggi) Penandaan Resiko Jatuh
  2. Penandaan resiko jatuh mengunakan Form lembar pengkajian ulang pasien jatuh Kuning : Skoring 25 – 50 (Resiko Sedang), Skoring >51 (Resiki Jatuh Tinggi)
  3. Penandaan Alergi Obat, Merah : Jika hasil assement terdapat riwayat allergy Obat.
  4. Penandaan Do Not Resusitasi (DNR)

Ungu :Jika dokter / pasien / keluarga pasien setuju untuk tidak di lakukan resusitasi jantung paru.

 Penilaian sesuai kondisi Penandaan

  1.   Tidak ada masalah
  2.    Sedang/berat : Lapor dokter jaga
  3.    Membaik : Jika membaik Lanjutkan Skorin
  4.    Tidak membaik : Lapor DPJP/Pindah Perawatan ICU lanjutkan skoring di Icu jika pasien Pindah.

 

 

 

Tujuan Inovasi

Tujuan inovasi TERPESONA adalah melakukan Optimalisasi dalam langkah keselamatan pasien rawat inap secara komprehensif dengan peningkatan integritas, loyalitas, dan efektifitas kinerja pegawai di RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Kota Semarang untuk mencapai indikator Mutu dan keselamatan pasien dengan pencapaian target 95%.

Manfaat Inovasi

MANFAAT PENERAPAN STANDAR PELAYANAN MELALUI PENGAPLIKASIAN TABEL TERPESONA

Bagi pasien : keselamatan pasien menjadi yang utama, mendapatkan respon dengan cepat sesuai indikasi secara lebih komperfensif 

Bagi perawat: mempermudah pemantauan pasien, komunikasi antar perawat dalam memonitoring kondisi pasien lebih berjalan dengan baik walaupun dengan sistem shifting

Bagi rumah sakit : Monitoring EWSS, Resiko Jatuh, perkembangan Pasien, Alergi Obat, Do not Resusitation di setiap ruang Rawat Inap di RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Kota Semarang secara akurat, efektif dan efisien dalam SDM dan waktu. Perkembangan fisologis dan non fiologis pasien lebih cepat dan tepat termonitor. TERPESONA RSWN mampu di laksanakan oleh semua Ruang rawat inap dengan biaya relative sangat murah. TERPESONA dapat meningkatkan mutu pelayanan RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Kota Semarang.

Hasil Inovasi

Tersedia nya Tabel TERPESONA pada setiap bangsal perawatan pasien di RSD KRMT Wongsonegoro Kota semarang, menghasilkan:  

  1. Monitoring EWSS, Resiko Jatuh, perkembangan Pasien, Alergi Obat, Do not Resusitation di setiap ruang Rawat Inap di RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Kota Semarang secara akurat, efektif dan efisien dalam SDM dan waktu.
  2. Perkembangan fisologis dan non fiologis pasien lebih cepat dan tepat termonitor
  3. TERPESONA RSWN mampu di laksanakan oleh semua Ruang rawat inap dengan biaya relative sangat murah.
  4. terwujudnya patient safety dan caring perawat terhadap kondisi pasien
  5. komunikasi antar perawat dalam memonitoring kondisi pasien secara komperhensif dengan sistem shifting
  6. kesigapan petugas meningkat

Dampak inovasi TERPESONA sesuai tabel berikut : 

DAMPAK SEBELUM DAMPAK SETELAH      
lembar terlampau banyak tidak memerlukan banyak lembar      
tidak dapat dilihat secara bersama semua kondisi pasien

mudah dilihat dan papan menggambarkan semua kondisi pasien

     

https://drive.google.com/file/d/1oVCf31wGQL4ItHHGnx8OGNHxJl0UjAQr/view?usp=drive_link

https://drive.google.com/file/d/19ZaHtiT5bEWaj3gdwEW9Ivv7b4uWvQh6/view?usp=drive_link

 

Tahapan
Penerapan
Uji Coba
2022-07-04
Implementasi
2022-09-22